Menulis Sinopsis Dongeng

  1. SUARA ANEH
    Di suatu subuh pagi yang sunyi,saya dibangunkan oleh ibuku untuk menjaga adik.Dan saya pun menurutinya.
    Setelah itu,ibuku pun tertidur.Akhirnya, aku pun hanya bersama adikku .Setelah itu,kami pun bermain bersama.Beberapa lama kemudian aku mendengar suatu suara yang sangat menakutkan,suara itu sangat nyaring sehinnga membuat telingaku menjadi sakit.Suara itu ada didepan rumah dan berkata sesuatu perkataan yang tidak jelas seakan meminta tolong.Aku pun merinding ketakutan dan aku mengira itu adalah pocong.Tapi aku tidak berani keluar dan membuktikannya sendiri.
    Sebenarnya aku tidak percaya dengan hal seperti itu,namun itu memang yang telah terjadi,bagiku itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah aku alami.

    SEKIAN,,,

  2. yudhistira ridzki putra wardani (mayor)

    “TAKDIR DALAM LAMPION.
    Mereka duduk berhadapan. Dalam diam. Yang satu sibuk menata kata. Satunya lagi riasan.
    Yang muda terus berketak ketuk di netbooknya. Sesekali melirik yang tua yang asyik menjajal maskara baru dan bereksperimen dengan warna gincu.
    Nggak tahan juga. “Tiketku sudah oke semua, ma. Minggu depan aku balik Seattle”
    Tak ada reaksi.
    “Ma?”
    Masih nggak digubris.
    “Kenapa sih ngotot suruh aku pulang?”
    Yang tua mengulangi poles gincu di bibirnya. Lalu seperti terburu-buru, meneguk tandas oolong tea yang baru diseduhnya. Tangannya merogoh-rogoh kantong dasternya. Lalu, “Brakkkk”. Tubuh tua itu jatuh di hadapannya. Di tangan keriputnya, remasan kertas bertuliskan “Kuburkan mama seperti ini. Cantik, persis sepertimu”
    Nama :yudhistira ridzki putra wardani
    No:40
    Kelas:7.1

  3. SINOPSIS:
    KEMBANG API
    Lagi-lagi Abi memintaku membeli kembang api di sana. Aku masih tak mengerti, apa bedanya kembang api jualan si abang berpeci hijau spotlight itu dengan yang lainnya.
    Satu hal yang membuatku agak segan membelikan Abi kembang api di sana. Mata si abang yang tak berkedip menelanjangiku.
    Kali ini aku punya waktu, tak seburu-buru biasanya, tak sekedar meminta mang Ujang yang memilih dan membayar kembang api Abi. Aku mau memberinya pelajaran karena tak punya malu memandangiku begitu. Kujentikkan jari, kutuding-tuding dirinya, ia bergeming. Kukibas-kibaskan lembar ribuan di hadapannya, pandangnya tak lekang. Aku siap meledak, kalau saja mang Ujang tak bergegas berkata-kata padaku lewat kedua tangannya di antara komat-kamit si abang penjual kembang api
    FINANDRA ADHEIZKA
    7.1/18

  4. Cerpen Cinta Pertama : First Love
    Aku mengenalnya semenjak aku berusia 14 tahun, dan semenjak itu aku merasa aneh.
    Entah apa yang aku rasa saat itu, aku tak mengerti apa yang sedang terjadi kala itu, aku seperti orang yang tak tentu arah.
    Saat aku sadari ternyata aku mulai jatuh cinta, ya aku jatuh cinta untuk yang pertama kali
    Namun aku tak mampu melakukan apa yang ingin aku lakukan.
    Aku hanya mengaguminya dari kejauhan, aku hanya mampu melihat senyumnya dari sini dari tempatku duduk kala itu.
    Aku melihatnya tertawa dan melihat bermain bola di lapangan itu.
    Aku sungguh jatuh cinta, ini cinta pertama ku..
    Laki laki yang aku pandang terlihat tampan dengan gayanya yg khas dan aku suka itu..
    Matanya sangat indah, rambutnya yang kriting menambah getaran dalam dada ini..

    Huuuuh aku suka dia, benar-benar suka dia..
    Rasa ini semakin hari semakin dalam.
    Setiap hari yang aku ingin hanya memandang wajahnya.
    Suatu hari aku melihat tatapan matanya, tatapan mata yang sangat sejuk.

    Yang mampu membuat jantung ini berdegup lebih cepat.
    Dan akhirnya aku mulai bisa dekat dgn dia, aku merasa sangat bahagia.
    Hingga suatu hari, apa yang aku takutkan terjadi, dia pergi..

    Pergi tanpa pesan terakhir.
    Kini, hanya ada aku dan kenangan itu..
    Aku hanya mampu mengingatnya, mengingat semua senyumnya dan tatapan indah itu.
    Aku berjalan gontai sambil meneteskan air mata , air mata kehilangan.
    Dia, takkan pernah tau betapa sakitnya aku saat itu, saat dia pergi dariku.
    Aku tak mampu berkata apapun, aku hanya menangis dalam diam, menyesali semuanya..
    Aku mencoba tegar, aku mencoba terus untuk menutup luka ini, luka yang kau beri.
    Aku mencoba bahagia dgn apa yg aku milikki saat itu..
    Aku mencoba bertahan dgn senyumanku.
    Yaa tuhan, jaga dia selama dia jauh dari sisiku.

    Di dalam penantianku, ada seorang pria datang dgn membawa sejuta cinta
    Aku masih ingin diam, dan diam menunggu cintaku kembali dalam pelukku.
    Namun kehadirannya membuat aku tertawa seperti dulu, tetapi sungguh dalam hati ini masih ada nama cinta pertamaku.
    Aku hanya mampu tertawa sesaat saja, setelah itu kembali menangis dalam diamku, dalam penantianku.

    Untuk sementara waktu, sakitku terobati oleh kehadirannya di dalam sepiku.
    Namun hanya sementara dan setelah itu kami berpisah..
    Tahun pun telah berganti namun cintaku tak pernah kembali..
    Aku tetap menunggu, menunggu dalam ketidakpastian ini..
    Sampai suatu hari, aku tau dia sudah tak sendiri lagi, dia mempunyai seorang kekasih..
    Aku hancuuuur saat itu..
    Aku harus melihat cinta pertamaku bersama wanitanya itu.
    Aku menangis sejadi jading
    ya😥
    Aku terus menangis dalam diamku, aku tak mampu lagi tersenyum saat itu..

    Rasanya hatiku sangat sakit saat itu, hatiku ada 1 dan akhirnya hancur berkeping-keping.
    Tuhan, mengapa ini terjadi padaku??
    Aku menutupi rapuhnya hatiku dgn caraku sendiri.
    Dan aku mencoba berpaling tapi selalu saja gagal.

    Akhirnya aku menemukan seorang pria, yang sangat aku harapkan bisa menggantikan dia.
    Namun ternyata aku salah, semua yg aku usahakan gagal..
    Entah apa yg aku rasakan saat itu, aku galau..
    Aku kecewa..
    Aku harus rela DIA bersama wanitanya…
    Namun aku tak sekuat yang aku kira, aku berharap aku mampu namun ternyata aku tak
    mampu.
    Aku terlalu rapuh untuk itu..
    Namun aku tak putus asa, aku terus menunggunya dan aku hanya menangis dalam diamku.
    Aku berdoa, suatu hari nanti DIA bisa mengerti rasaku ini J
    Setelah tahun berganti..

    Tuhan mendengar doaku, aku kembali bisa dekat dengan cinta pertamaku itu.
    Ahhh, senangnya aku ini😀
    Lama-kelamaan aku semakin dekat dengan dia..
    Dan sekarang dia bukan lagi bayangan, tapi dia adalah KENYATAAN.
    Perjuanganku selama 4tahun ini TIDAK sia2, terima kasih Tuhan :*

  5. R.A Siti Paramesthi Sani Purnomowati

    Cerpen Ramadhan Islami : Tak Seperti Sore Biasanya
    Sore itu seperti sore biasa, Mia pulang terlambat dari sekolahnya. Kegiatan ekstra kulikuler SMA banyak menyita waktunya akhir-akhir ini. Dia membuka pintu dengan lemas dan segera menuju dapur. Berharap segelas air putih, bisa meyejukkan tenggorokannya yang kering. Belum dia menyentuh ketel air yang berwarna biru itu, langkahnya terhenti. Dia melihat ibunya tertidur diatas sofa, di pojok ruang makan itu.tangan ibunya masih memegang celemek yang dia pakai jika memasak.

    Wajah ibunya yang dimakan usia tersirat hidupnya yang getir. Setiap hari tanpa henti mengupas bumbu dapur lalu menjualnya kerumah makan. Harga yang didapat tidak pernah sebanding dengan keringat dan luka yang membekas dijarinya. Mata mia berkaca-kaca, dia mendekati ibunya lalu mencium keningnya.

    “ibu, aku pulang.” sapa mia dengan lembut, lalu dia bermanja, memijat kaki ibunya perlahan.

    “ibu ketiduran ya?” beliau tersipu, lalu mengelus rambut anak perempuannya itu.

    “pindah kekamar bu, biar aku yang melanjutkan pekerjaan ibu” kata mia.

    “jangan, kau buat saja PR-mu. ibu sudah tidak lelah lagi.” ibunya lalu berdiri.

    “ibu, aku saja.” mia merengek.

    Ibunya menggelengkan kepala. Jika dia diam artinya dia serius. Mia yang sedikit kecewa. Duduk di meja makan dan mengeluarkan bukunya. Ibunya tersenyum melihat anak perempuannya mulai belajar. Karena bagi dirinya ilmu adalah misteri. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu dia mempunyai hasrat yang kuat, agar anaknya tidak bernasib seperti dirinya. Mia terkejut, teh hangat dan manis kini ada didepannya. Ibunya yang diam-diam membelakanginya ternyata membuatnya teh kesukaannya.

    Sore itu masih seperti biasa samapai seorang lelaki mabuk datang dan berteriak-teriak.
    “istriku, mana istriku yang ke tiga ini bersembunyi” lelaki itu berjalan oleng dan menjatuhkan beberapa keramik.

    “itu ayahmu, mia, kau masuklah kekamarmu. sembunyi” ibunya panik. Mia pun bereaksi refleks. Karena hal ini sudah dilakukannya sejak masih kecil. Mia duduk dipojok kamarnya, memeluk bantal, memejamkan mata tapi telinganya mencuri dengar.

    “mana uang itu?, ke***at” ayah mia memaki ibunya.

    “ampun pak, uang itu untuk mia sekolah. jangan pak” ibu mia memelas.

    “ja****m, anak itu tidak perlu sekolah. kau kawin kan saja dia.” lalu terdengar suara tamparan yang keras.
    “jangan pak. pukul saja aku sepuasmu, tapi jangan renggut masa depan mia.” ibunya memelas lagi.

    PRAAKKKKKK, suara pecahan kaca terhempas. Mia semakn mengerut. Lalu terdengar suara orang yang berlari. Tapi suara ibunya tak terdengar sama sekali.

    Mia keluar kamar dengan tubuh gemetar, dia perlahan mendekati kamar ibunya. Gemetar tubuh mia terhenti. Dia terhempas kelantai melihat tubuh ibunya. Darah mengalir dikepala ibunya. Tubuhnya mulai basah karena darah. Tangan ibunya masih menggenggam beberapa helai uang ribuan. Uang yang akan menjanjikan masa depan Mia. Dia tertegun, orang yang paling dicintai dan disayangnya kini terbaring tak bernyawa.

    Seperti orang kehilangan jiwa mia berjalan pelan menuju dapur. Diambilnya pisau yang masih tergeletak dilantai. Lalu dia berjalan pelan keluar rumahnya seperti tidak ada apa-apa. Didalam kepalanya saat ini. Hanya ada satu hal.

    Mengeluarkan hati ayahnya yang menurutnya tak pernah dipakai.

  6. Fairuz Praba Bhagaskara

    Peradilan Rakyat
    Cerpen Putu Wijaya
    Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

    “Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”

    Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

    “Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
    Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”
    “Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
    tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

    “Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

    Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

    “Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

    Pengacara tua itu meringis.
    “Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”
    “Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”
    Pengacara tua itu tertawa.
    “Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.
    Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

    “Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”

    Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

    “Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.”
    “Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”

    “Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

    Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

    Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini.”

    Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

    “Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.”

    “Lalu kamu terima?” potong pengacara tua itu tiba-tiba.
    Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
    “Bagaimana Anda tahu?”

    Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: “Sebab aku kenal siapa kamu.”

    Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
    “Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”

    Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
    “Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?”
    “Antara lain.”
    “Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.”
    Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
    “Jadi langkahku sudah benar?”
    Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

    “Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?”
    “Tidak! Sama sekali tidak!”
    “Bukan juga karena uang?!”
    “Bukan!”
    “Lalu karena apa?”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Karena aku akan membelanya.”
    “Supaya dia menang?”

    “Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku.”
    Pengacara tua termenung.
    “Apa jawabanku salah?”
    Orang tua itu menggeleng.

    “Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.”

    “Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.”

    “Tapi kamu akan menang.”
    “Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.”

    “Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini.”

    Pengacara muda itu tertawa kecil.
    “Itu pujian atau peringatan?”
    “Pujian.”
    “Asal Anda jujur saja.”
    “Aku jujur.”
    “Betul?”
    “Betul!”

    Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
    “Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?”

    “Bukan! Kenapa mesti takut?!”
    “Mereka tidak mengancam kamu?”
    “Mengacam bagaimana?”
    “Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?”

    “Tidak.”
    Pengacara tua itu terkejut.
    “Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?”
    “Tidak.”
    “Wah! Itu tidak profesional!”
    Pengacara muda itu tertawa.
    “Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!”
    “Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?”
    Pengacara muda itu terdiam.
    “Bagaimana kalau dia sampai menang?”
    “Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!”
    “Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?”
    Pengacara muda itu tak menjawab.
    “Berarti ya!”
    “Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!”

    Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

    “Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.”
    “Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.”

    “Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?”

    “Betul.”
    “Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

    Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.”

    Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
    “Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

    Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

    “Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.”
    “Tapi…”

    Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
    “Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

    Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

    “Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai.”

    Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadil

    an diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

    Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

    “Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,” rintihnya dengan amat sedih, “Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?”

  7. SINOPSIS PERADILAN RAKYAT
    Cerpen putu wijaya
    seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
    “Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”
    Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung

    “Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
    Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”
    “Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
    tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

    “Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

    Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

    “Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

    Pengacara tua itu meringis.
    “Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”
    “Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”
    Pengacara tua itu tertawa.
    “Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.
    Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

    “Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”

    Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

    “Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.”
    “Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”

    “Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

    Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

    Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini.”

    Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

    “Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.”

    “Lalu kamu terima?” potong pengacara tua itu tiba-tiba.
    Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
    “Bagaimana Anda tahu?”

    Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: “Sebab aku kenal siapa kamu.”

    Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
    “Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”

    Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
    “Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?”
    “Antara lain.”
    “Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.”
    Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
    “Jadi langkahku sudah benar?”
    Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

    “Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?”
    “Tidak! Sama sekali tidak!”
    “Bukan juga karena uang?!”

    “Tidak.”
    Pengacara tua itu terkejut.
    “Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?”
    “Tidak.”
    “Wa”Bukan!”
    “Lalu karena apa?”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Karena aku akan membelanya.”
    “Supaya dia menang?”

    “Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku.”
    Pengacara tua termenung.
    “Apa jawabanku salah?”
    Orang tua itu menggeleng.

    “Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.”

    “Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.”

    “Tapi kamu akan menang.”
    “Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.”

    “Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini.”

    Pengacara muda itu tertawa kecil.
    “Itu pujian atau peringatan?”
    “Pujian.”
    “Asal Anda jujur saja.”
    “Aku jujur.”
    “Betul?”
    “Betul!”

    Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
    mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kes akitan.

    “Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.”
    “Tapi…”

    Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekret”Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?”

    “Bukan! Kenapa mesti takut?!”
    “Mereka tidak mengancam kamu?”
    “Mengacam bagaimana?”
    “Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?”
    h! Itu tidak profesional!”
    Pengacara muda itu tertawa.
    “Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!”
    “Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?”
    Pengacara muda itu terdiam.
    “Bagaimana kalau dia sampai menang?”
    “Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!”
    “Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?”
    Pengacara muda itu tak menjawab.
    “Berarti ya!”
    “Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!”

    Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

    “Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.”
    “Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.”

    “Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?”

    “Betul.”
    “Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

    Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.”

    Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
    “Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

    Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu arisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
    “Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

    Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

    “Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai.”

    Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

    Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

    “Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,” rintihnya dengan amat sedih, “Aku terus membuka negeri kita sekarang ini? suara yang tenang dan agung.pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau peradilan rakyat seperti bencana yang melanda

    SELESAI….

  8. rifkyhilaldelpiero

    sesudah sholat shubuh

    aku dan temanku jalan-jalan naik sepeda. aku dan temanku melewati sawah dan aku melihat ketengah sawah ada hantu memekai kain putih temanku mempunyai ide untuk melempari hantu itu menggunakan mercon korek sudah melempari mercon korek temanku terjaduh dari sepeda dan aku menolongnya.
    sesudah menolong temanku aku ngebut menggunakan sepeda.
    akhirnya aku pergi ke sebelah kebun binatang gembira loka yaitu adalah lapangan trek.aku dan temanku mencoba trek-trekan itu dan temanku terjatuh setelah mencoba trek-trekan itu aku kembali berjalan-jalan kekota-gede di lapangan karang disana aku bermain mercon.sudah waktunya pagi aku dan temanku bermain bola dilapangan karang sesudah bermain bola aku dan temanku sudah capek dan akhirnya pulang.

  9. MUADZ JABAL ADIYUDHA

    PERSAHABATAN
    Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.

    Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis.

    Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.

    Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.

    Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.

    Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah.

    Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.

    Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella.

    Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti

  10. BISIKAN ANEH
    Jangan lupakan aku. Kabari aku jika kau sudah sampai di sana, begitu katamu ketika melepaskan kepergianku. Namun, pada saat yang bersamaan, perasaan ini berkata lain. Ada sesuatu yang tiba-tiba melintas, dan dengan caranya yang aneh pula dia mengatakan bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya.
    Oleh karenanya, mungkin jika kau memperhatikan tatapan mataku, atau mimik yang tergambar di raut wajahku, kau akan tahu bahwa aku meragukan setiap kata yang kau ucapkan kepadaku.
    Tetapi, itulah. Aku sendiri tak tahu lagi kepada siapa aku menaruh kepercayaan. Dusta itu sudah terlalu sering menghujaniku. Kebohongan rasanya seperti genting pada setiap rumah, atau jendela dengan kaca-kaca timah menorehkan warna-warninya di kehidupanku. Sehingga, jangan heran jika pada akhirnya aku pun mendiamkan saja apa yang terjadi pada diriku. Toh, akhirnya kau berbohong kepadaku.
    “Jangan lupa, ya..” Itu ucapanmu sambil melemparkan senyum dari bibir yang biasa kau berikan padaku untuk kulumatkan di malam-malam kita tempo hari.
    Ah, sandiwara apa lagi yang tengah kau mainkan, manisku? Bahkan ketika kukatakan bahwa kepergianku ini untuk sesuatu yang penting bagi kita, dan kau menunjukkan keberatan karena lamanya kita berpisah, aku sudah tahu bahwa itu hanya pura-pura saja. Kepura-puraan seutas tali layang-layang, yang kau tarik seolah menurunkan, yang sesungguhnya membuat terbangnya kian tinggi. Aku tahu, sayangku, aku tahu.
    Maka, ketika pesawat ini mendarat dan aku melanjutkan perjalanan dengan landrover, mendaki dan menjelajahi tanah tak ramah, aku pun kian tergelak-gelak oleh sandiwara yang kau mainkan. Tidak, kau tidak bermain, tetapi menyutradari lakonku. Aha, kau menjadi sutradaranya!
    Aku tahu kau tengah menimbang-nimbang dan menggores-goreskan naskah yang kau edit sendiri, dan mengarahkan langkahku untuk menemui kegagalan itu. Kau pikir aku tak tahu apa yang kucari? Kau pikir aku tak tahu siapa yang akan kutemui? Meskipun ketika kukatakan bahwa aku sendiri tak yakin benar akan apa yang akan kucari ini, dan kau mencegahku –ah, betapa manisnya adegan itu– aku tahu bahwa sebetulnya kau tengah berdoa agar aku cepat-cepat pergi dan menjumpai bibir jurang kehampaan yang menganga.
    “Sudah lama kenal sama Mahmud?” Tiba-tiba orang yang menjemputku bicara. Aku tak percaya manusia besi ini bisa bicara. Sejak kedatangannya di bandara, dan setelah hampir tiga jam dia bersamaku, baru ini yang diucapkannya.
    Kau tahu, sayangku, caranya bicara menunjukkan bahwa apa yang diucapkannya hanyalah sebuah basa-basi, pemerah bibir. Dia tak punya kepentingan apa-apa denganku, karenanya dia bertanya tentang sesuatu yang tak berkaitan dengan urusannya. Bayangkan, jika saja kujawab “sudah”, lantas dia mau bilang apa? Atau misalnya aku berdusta dengan mengatakan “belum”, kira-kira apa yang akan dijadikannya pertanyaan berikutnya? Tak ada. Persis seperti caramu menghadapiku. Semuanya basa-basi.
    “Sudah.”
    “O…berapa lama?”
    Nah, apa kataku. Dia hanya mencoba berbasa-basi lagi.
    “Sepuluh tahun…,” jawabku asal saja.
    “Teman kuliah?”
    “Bukan.”
    “Teman kerja?”
    “Bukan.”
    Nah, betul, kan, kataku, dia tak bisa menyambung dengan kata-kata lagi. Itu semua karena dia hanya berbasa-basi.
    “Kita akan sampai di ibukota kecamatan kira-kira dua jam lagi. Dan karena di dalam dua jam itu saya khawatir kita tidak menemukan kedai atau apa pun, sebaiknya kita mampir dulu di pasar ini. Sekalian kita cari pompa bensin.”
    “O…bagaimana mungkin dalam dua jam perjalanan kita tidak bisa menemukan warung, atau kedai makanan?”
    “…?”
    Dia hanya menatapku dengan bingung. Otaknya tak cukup cerdas mencari sebuah kalimat yang bisa membuatku paham. Lalu, sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari warung, dia kembali tenggelam dalam kebisuannya.

    ***

    Selama menunggu makanan di kedai, aku membayangkan serbuk racun ditaburkan di makanan yang akan kumakan. Ah, jangan kau pura-pura, sayangku, dia adalah orang suruhanmu. Jangan menyangkal, aku tahu. Engkau ingin tahu bagaimana aku bisa tahu? Haha…untuk apa? Membuktikan bahwa kau adalah seorang juru catat yang andal? Dia dengan mudahnya menyuruh si pemilik warung untuk menaburkan sejenis sianida atau racun apalah namanya, ke dalam makananku.
    “Saya belum lapar…”
    Dan lihatlah wajahnya yang tolol itu.
    “Saya sudah pesan 2 piring dan Anda setuju kita makan dulu. Kenapa tiba-tiba merasa belum lapar?”
    “Maaf, ini perut saya. Sayalah yang paling tahu kondisinya.”
    “Hmm…tapi kita harus bayar 2 piring.”
    “Tak masalah. Saya akan bayar. Kalau mau, silakan makan punya saya…”
    Piring dan lauk dihidangkan. Ikan bakar, sambal dan lalapan.
    Dia makan dengan lahapnya. Aku hanya mengamatinya saja. Dia terlalu lahap, dan betul-betul menikmati nasi hangat dan ikan bakar itu.
    “Jadi, nggak makan?”
    Aku menggeleng.
    “Sayang kalau dibuang. Saya makan, ya?” Dan dia langsung mengambil jatahku.
    Dan kembali dia melahap habis nasiku, laukku dan lalapanku. Dia minum dengan tegukan besar dan mengeluarkan sendawa besar. Sungguh edan!
    Kuamati perubahan di wajahnya. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi dia akan…

    ***

    Aneh. Si besi ini tak mati-mati juga, padahal, menurut dugaanku, piringku pasti beracun dan…mungkin aku salah. Landrover menderum lagi membelah malam.
    Dia menyalakan rokok dan menikmati laju kendaraan dengan seenak perutnya. Sementara itu aku terayun-ayun dan merasakan kantuk mengganduli mataku. Tidak, tak mungkin aku tertidur, sementara kaki-tanganmu siap menikamku. Ini juga bagian sandiwaramu, bukan?
    Tiba-tiba mobil berdecit, membelok dan berhenti. “Maaf, perut saya…” dia lari ke semak-semak sambil membawa sebotol air. “Kebanyakan sambal,” teriaknya sebelum menghilang di semak-semak.
    Bukan kebanyakan sambal, tapi sianidamu mulai bekerja. Bagaimana mungkin dia yang menyuruh menaburkan bubuk racun itu kemudian memakannya? Apakah dia ingin meyakinkan aku bahwa… ah, sandiwara terlucu yang pernah kusaksikan.
    Mesin menyala, lampunya mengarah ke semak-semak. Sialan, aku disuruh menyaksikan dan menunggui pembunuhku buang air! Kampret! Aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu. Kita sebentar lagi akan menikah, dan dalam pernikahan itu, kujamin bahwa diriku akan bisa membuatmu menjadi wanita terhormat, ibu dari anak-anakku. Yang aku tak mengerti, mengapa kau sudah… ah, itu yang aku tak paham. Apa sebetulnya motivasimu?

    ***

    Dan Mahmud itu, nama yang kau sebut-sebut sebagai kawan yang mungkin bisa membantuku itu, bukankah dia kekasih gelapmu? Jangan kau sangkal dan membalikkan kenyataan itu sebagai bentuk kecemburuanku padamu. Jika bukan kekasih gelapmu, mana mungkin kau secara cepat memberikan nama itu kepadaku?
    Apalagi, rumahnya jauh dari rumah kita. Bayangkan, aku harus berpesawat, lalu naik landrover ini berjam-jam, baru bisa menemukannya. Aku curiga, jangan-jangan kau telah bersekongkol dengan Mahmud. Dan manusia besi yang sekarang sedang berjuang keras di balik semak-semak itu, tentunya adalah kaki-tangan Mahmud juga.
    Tetapi, mengapa?
    Aku sendiri meragukan apakah yang kucari ini akan kutemukan atau tidak. Tetapi, ketika kukatakan kepadamu, tempo hari itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan, sikapmu, ucapanmu, bahkan tangisanmu, sebetulnya adalah taktikmu saja agar aku meragukan kepergianku. Itu sebabnya, aku justru ingin pergi dan mencarinya. Seandainya saja, engkau tidak keberatan dan mempersilakan aku pergi, mungkin aku malah tak pergi.
    Tetapi karena kau merengek agar tak kutinggalkan, entahlah, keinginanku untuk pergi rasanya kian menggebu.
    Sungguh aku tidak mengerti sikapmu.
    “Wah, lega rasanya, bisa…” Dan dia mengakhiri kalimatnya dengan ekspresi puas, diulas senyum lebar.
    Sungguh tak sopan manusia satu ini. Selesai buang hajat malah pamer!

    ***

    Perjalanan berlanjut. Hanya bunyi mesin yang kudengar. Jalan berkelok-kelok, mendaki, menurun, bergelombang. Belum mati juga, dia.
    “Merokok?”
    “Terima kasih. Kata orang merokok bisa memendekkan umur,” jawabku berusaha ketus. Maksudku agar dia mengerti bahwa sebetulnya aku keberatan kalau dia merokok.
    Ajaib dia malah tertawa terbahak-bahak.
    “Hebat benar, Tuhan bisa dikalahkan oleh rokok…” dan gelak tawanya kian nyaring di malam sunyi ini.
    Sinting, dia membawa-bawa nama Tuhan demi sebatang rokok sialan itu.
    “Anak saya lima. Yang besar sudah SMA, Mas?”
    Ampun, siapa yang mau tahu keluarganya? Mau punya anak selusin pun, aku tak peduli. “Belum kawin…,” jawabku lesu.
    “Lho, saya pikir Mas ini suaminya Mbak Desy?”
    Nah, nah…bagaimana mungkin dia tahu namamu? Bukankah kau pun tak mengenalnya? Bagaimana mungkin dia tahu bahwa namamu Desy dan aku adalah pasanganmu? Jika bukan ada apa-apanya, tentu tak mungkin dia tahu banyak tentang kita.
    “Pak Mahmud bilang bahwa Mas ini suaminya Mbak Desy. Jadi, bukan? Maksud saya, belum menikah?” Dia pun terbahak lagi.
    Lihatlah, Des, lihat… ah, seandainya saja kau bisa menyaksikan bagaimana laki-laki besi ini tertawa geli. Dia mengejekku. Dia menertawakanku. Bukankah ini sebetulnya maksudmu “melemparkan”-ku kemari? Agar aku jadi bahan tertawaan orang lain? Oh, Desy, Desy… aku semakin tak mengerti mengapa kau menyukai cara-cara aneh untuk menghina calon suamimu sendiri?
    “Mumpung masih muda, kawinlah Mas. Maaf usia Mas berapa?”
    Hmmm! Mau apa dia tanya-tanya umurku? “Empat puluh.”
    Dia diam. Kurasa dia tak percaya atau angka empat puluh merupakan angka keramat baginya. Dan, Desy, inikah caramu agar aku dicerca oleh orang lain? Bukankah sudah menjadi keputusanmu bahwa selisih usia kita yang nyaris dua puluh tahun ini bukan soal untuk berumah tangga? Lalu, mengapa kau selalu menggiringku ke dalam bubu jebakan, agar setiap orang mempertanyakan masalah usia kita?
    Apa rencanamu sebetulnya di balik ini semua?

    ***

    Jam 11 malam landrover berhenti di depan sebuah rumah panggung. Sunyi dan gelap mengepung. Untunglah bulan masih mau membagi sinarnya. Bulan tanggal berapa sekarang, mengapa belum bulat penuh?
    Mungkin, karena mendengar derum mobil, si tuan rumah membuka pintu. Seorang laki-laki besar, bercelana jins berkaos hitam, tegak di ambang pintu. Cahaya menyeruak menginginkan kebebasan.
    “Belum tidur, rupanya, Pak Mahmud…”
    “Itu Mahmud?” namun aku segera sadar bahwa tadi aku mengaku mengenalnya selama 10 tahun. Dia tentunya –seharusnya curiga dengan ucapanku. Tapi, ah, si bodoh ini hanya diam saja. Mungkin dia mengantuk atau tak peduli.
    Dia turun tangga menyambutku. Hangat. Genggaman tangannya kuat sekali dan sebaris gigi besarnya menyeringai. Bahagia betul dia menemukan korbannya!
    “Kenapa lama sekali, Din?” ucapnya di sela-sela senyumnya.
    “Maaf Pak, tadi…” Si Din menepuk-nepuk perutnya sendiri sambil meringis. Mahmud tergelak.

    ***

    Paginya, aku terbangun dengan badan dirajam lelah. Maklumlah, semalam aku tak makan dan langsung tertidur, begitu Mahmud membukakan kamar untukku. Kubuka jendela kayu dan… Tuhanku, engkau pasti tersenyum ketika menciptakan alam ini. Gunung-gunung berlapis-lapis, berkelambu kabut yang membuatnya kian menipis. Bebukitan menggunduk di sana-sini, menyembul di antara padang rumput, pepohonan dan bebatuan besar. Dan di leher-leher bukit itu, kabut tipis melayang perlahan, layaknya kain panjang seorang jelita putri di negeri dongeng. Kuda-kuda merumput tenang, bersama sapi dan kambing. Di manakah aku saat ini? Belum pernah kusaksikan keramahan yang menyejukkan jiwa, seperti di tempat ini.
    “Mari sarapan dulu, istri saya sudah menyiapkan.” Tiba-tiba suara yang kukenali membuatku tersadar dan melihat arloji. Jam sembilan!
    “Mmm… ini waktu Indonesia Bagian Tengah. Jamnya pasti belum disesuaikan.”
    “Oh…,” berarti aku harus mengubahnya menjadi jam sepuluh! Astaga, aku terbangun jam sepuluh! Berarti lelap sekali tidurku.
    Sambil makan, Mahmud berkata tentang sesuatu yang akan kucari itu. Memang, dia bilang bahwa kayu itu tumbuh hanya di daerah ini, namun tidak semua orang bisa mencarinya. “Adanya di hutan dan hanya orang tertentu yang bisa menemukannya.”
    Aku berhenti menyuap. Gagal sudah harapanku.
    “Untuk apa, sih, Mbak Desy mencari kayu itu?”
    “Mmm… ini memang permintaan paling aneh.. Katanya untuk persyaratan mas kawin…”
    Tanpa kuduga, Mahmud tertawa. Suaranya lantang memenuhi ruang-ruang di rumahnya. Sesaat dia tersedak. Minum. Lalu melanjutkan gelak tawanya lagi.
    “Ya, ya… saya mengerti. Itu permintaan aneh, dan lebih aneh lagi, saya menurutinya. Saya harus ambil cuti dan…di sini ditertawakan orang,” ucapku putus asa.
    Mahmud berhenti tertawa tiba-tiba. “Oh, maaf, maaf…saya tidak menertawakan Mas. Saya hanya tak menyangka bahwa kayu itu begitu berharga bagi orang Jakarta. Itu saja. Jangan khawatir, saya akan membantu mencarikannya, jika memang sepenting itu.” Dia lalu mengangkat HP-nya. Gila. Di lambung gunung seperti ini, HP-nya masih berfungsi.
    Aku terdiam. Siapakah engkau, Mahmud?

    ***

    Aku tiba-tiba diserang hawa aneh yang membuatku berubah pikiran. Ucapan Mahmud yang sungguh-sungguh itu membuatku berpikir tentang semua yang tengah kulakukan ini. Aku yang semula percaya padamu, Des, tentang syarat yang kau ajukan itu, dan itu kubuktikan dengan kesungguhanku berangkat, tiba-tiba menjadi ragu, karena setelah kupikir, mungkin ini hanya alasan penolakanmu atas lamaranku. Namun, ketika kau pun agaknya meragukan permintaanmu sendiri, sementara aku jadi kian menggebu berangkat, aku mulai bimbang dengan semua ucapanmu. Dan ketika sesampai di tempat ini, bicara dengan Mahmud, aku…ah, entahlah.
    Bagaimana jika kayu itu memang kutemukan? Aneh. Gila. Nonsense.
    “Ada, Mas.”
    “Apanya?”
    “Kayunya. Mau seberapa panjang?”
    Aku terdiam. Terus terang, aku tak punya kesiapan untuk itu.
    “Kalau mau dimasukkan tas, ya, paling-paling 50 cm cukup, kan?”
    Aku masih diam. Jadi, kayu itu memang ada dan bisa kumasukkan tasku. Ah, gila. Terus, aku harus bagaimana? Setelah kayu itu ada di tanganku dan itu mencukupi syarat perkawinan kita, Desy? Aku harus bagaimana?
    “Maaf, tapi permintaan Mbak Desy memang agak langka. Soalnya, biasanya yang minta kayu itu adalah seorang dukun.” ujar Mahmud sambil tersenyum, dan tangannya mencolek ikan goreng.
    Dukun? Ah, skenario apalagi yang kau kembangkan untuk lakon kita, Desy?
    Ahh, aku tak tahu lagi, apakah setelah berjam-jam waktuku hilang di jalan, dengan berbagai rajaman pikiran meninggalkanmu, cutiku yang terbuang sia-sia, dan kayu yang memang ada itu, kemudian…”dukun”? Aku tak tahu lagi apakah aku masih punya sisa tenaga untuk mengawinimu, Des? Terus terang aku lelah mendengar bisik-bisik yang selalu menggaung di kepalaku ini. Aku ingin berhenti. Aku ingin agar bisikan itu berhenti dan aku bisa lebih tenang menjalani sisa lakonku sendiri. ***

  11. Irfan Hasnan Fadhlurrahman

    Merah Putih di Hati Pratman

    Ini bukan kisah heroik yang melakonkan seorang pahlawan dalam kekalutan. Ini juga bukan kisah anak-anak Laskar Pelangi yang teguh mengais keping-keping ilmu dalam kesederhanaan. Ini kisah tentang anak laki-laki semrawut, beraut muka kusut, bernama Pratman. Kisah tentang nasionalisme yang tertanam dalam dada bocah jalanan dengan segala pengorbanan.

    Lonceng tanda sekolah usai berbunyi.Parasiswa berhamburan keluar, termasuk di antaranya Pratman, maskot anak jalanan yang mampu bersekolah di SD Harapan. Terik matahari menyengat kulit legamnya. Namun, setitik muram pun tak nampak di wajahnya.

    “ Man, cengar-cengir terus. Bukannya malah beban jadi pemimpin upacara? “ kata Amin, salah seorang kawannya.

    “ Siapa bilang! “ sahut Pratman masih tersenyum-senyum.

    “ Terus..kenapa benderanya kamu bawa?Kanyang tugas jadi pengibar siNovi? “ tanya Amin lagi.

    “Kanibuku tukang cuci, jadi ya biar sekalian dicuci ibu. Jarang-jarangkanibu nyuci bendera. “ jawab Pratman sambil mengangkat alisnya.

    Pratman cs pun sampai di “ markas “ bobrok mereka, sebuah bilik kecil dari kardus-kardus bekas, tempat mereka menyimpan tas saat pergantian profesi. Mengamen adalah kerjaan mereka sepulang sekolah. Setelah mengganti seragam sekolah dengan “ seragam “ ngamen, mereka pun langsung meraih alat musik handmade mereka yang terbuat dari tutup-tutup botol dan meluncur ke jalan.

    Hari itu Pratman siap menjalankan “ live concert “ nya. Berbeda dengan kawan-kawan seperjuangannya yang gemar melantunkan lagu-lagu band masa kini, dari d’ massive, nidji, dan sederet grup band lainnya, Pratman lebih suka melantunkan lagu-lagu nasional. Lagu favoritnya adalah Indonesia Raya.

    Lampu merah akhirnya menyala. Saatnya beraksi. Pratman melompat ke dalam sebuah metromini. Beberapa penumpang yang sudah beberapa kali melihat “ live concert “ nya nampak tergugah untuk menyambut penampilan khasnya.

    “ Selamat siang, bapak-bapak, ibu-ibu, kakak, adik, om, tante, semuanya deh… Perkenalkan nama saya Pratman, panjangnya Wage Rudolf Supratman… eh, bercanda kok…Siang ini izinkan saya menghibur kalian semua. Kita nyanyi bareng, ya.” kata Pratman membuka aksinya. Sesaat kemudian, alat musik mulai dimainkan. Salah satu lagu nasional terlantun dari mulutnya.

    “ Bangun pemudi-pemuda Indonesia…Lengan bajumu singsingkan untuk negara… “

    Pratman larut dalam nyanyiannya. Sesekali diacungkannya tangan kanan ke udara, menunjukkan seberapa besar semangatnya.Parapenumpang yang belum pernah melihat aksi Pratman nampak terkagum karena dia berbeda dari pengamen lain. Di akhir aksinya, Pratman selalu menyerukan “ Merdeka! “ yang kemudian disambut dengan seruan yang sama oleh para penumpang. Begitulah keseharian Pratman, bergelut dengan profesi berupah murah namun tidak sesederhana yang dibayangkan.

    Senja mulai menggantikan siang. Pratman mempercepat langkahnya. Sesampainya di rumah liliputnya, dia menjumput uang hasil mengamen hari ini yang tak seberapa untuk ditabung sebagian di celengan ayam jagonya dan sebagiannya lagi diserahkan pada ibunya. Sebulan yang lalu dia telah bertekad untuk membeli sepatu dan seragam baru dengan uang tabungannya. Namun itu bukan hal yang gampang mengingat uang penghasilannya yang amat sangat minim.

    “ Bu, ini uang ngamen hari ini. Dan ini bendera sekolah untuk dicuci. “ kata Pratman.

    “ Iya, nanti ibu cuci. Kamu mandi dulusana. “ kata sang ibu penuh kasih sayang.

    * * *

    Beberapa hari ini, Pratman punya kerjaan baru sebelum tidur. Dia sibuk mengingat apa-apa saja yang harus dilaksanakannya saat memimpin upacara hari Senin nanti. Itu upacara bendera biasa, bukan upacara 17-an, namun bagi Pratman itu sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh. Konsentrasinya buyar ketika suara ibunya berteriak agak keras di belakang. Pratman berlari mendatangi sang ibu.

    “ Kenapa, bu? Kok panik begitu? “ tanya Pratman penasaran.

    “ Ya Allah…benderanya kelunturan, Nak. Bagaimana ini? “ kata sang ibu seraya mengangkat bendera yang bukan lagi benderaIndonesia. Warnanya merah semua. Raut muka Pratman menjadi lesu.

    Pratman nampak agak kebingungan. Bendera itu diserahkan padanya untuk dicuci dan itu menjadi tanggung jawabnya. Dia harus segera mencari akal untuk mengembalikan bendera menjadi seperti semula.

    Celengan ayam jago sepertinya harus dibuka sebelum saatnya. Sebenarnya Pratman tak rela memecah celengannya, tapi dia harus bertanggung jawab atas hal yang sudah dipercayakan kepadanya.

    Hari Senin yang ditunggu-tunggu pun tiba. Perannya sebagai pemimpin upacara membuat Pratman nampak lebih gagah dari biasanya. Di tanganNovi, terlipat sebuah bendera merah putih baru dan siap dikibarkan. Bendera yang merupakan wujud pengorbanan Pratman atas sebuah tanggung jawab. Senyum teruntai di bibir Pratman.

    “ Hormat grak! “ seru Pratman mantap. Seluruh siswa dan guru mengikuti komandonya. Lagu Indonesia Raya terlantun memenuhi atmosfer sekolah dan dalam hati Pratman.

  12. Jeffry Caesario Rama

    Peradilan Rakyat

    Cerpen Putu Wijaya
    Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

    “Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”

    Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

    “Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
    Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”
    “Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
    tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

    “Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

    Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

    “Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

    Pengacara tua itu meringis.
    “Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”
    “Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”
    Pengacara tua itu tertawa.
    “Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.
    Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

    “Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”

    Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

    “Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.”
    “Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”

    “Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

    Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

    Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini.”

    Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

    “Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.”

    “Lalu kamu terima?” potong pengacara tua itu tiba-tiba.
    Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
    “Bagaimana Anda tahu?”

    Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: “Sebab aku kenal siapa kamu.”

    Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
    “Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”

    Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
    “Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?”
    “Antara lain.”
    “Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.”
    Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
    “Jadi langkahku sudah benar?”
    Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

    “Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?”
    “Tidak! Sama sekali tidak!”
    “Bukan juga karena uang?!”
    “Bukan!”
    “Lalu karena apa?”
    Pengacara muda itu tersenyum.
    “Karena aku akan membelanya.”
    “Supaya dia menang?”

    “Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku.”
    Pengacara tua termenung.
    “Apa jawabanku salah?”
    Orang tua itu menggeleng.

    “Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.”

    “Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.”

    “Tapi kamu akan menang.”
    “Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.”

    “Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini.”

    Pengacara muda itu tertawa kecil.
    “Itu pujian atau peringatan?”
    “Pujian.”
    “Asal Anda jujur saja.”
    “Aku jujur.”
    “Betul?”
    “Betul!”

    Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
    “Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?”

    “Bukan! Kenapa mesti takut?!”
    “Mereka tidak mengancam kamu?”
    “Mengacam bagaimana?”
    “Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?”

    “Tidak.”
    Pengacara tua itu terkejut.
    “Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?”
    “Tidak.”
    “Wah! Itu tidak profesional!”
    Pengacara muda itu tertawa.
    “Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!”
    “Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?”
    Pengacara muda itu terdiam.
    “Bagaimana kalau dia sampai menang?”
    “Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!”
    “Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?”
    Pengacara muda itu tak menjawab.
    “Berarti ya!”
    “Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!”

    Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

    “Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.”
    “Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.”

    “Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?”

    “Betul.”
    “Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

    Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.”

    Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
    “Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

    Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

    “Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.”
    “Tapi…”

    Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
    “Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

    Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

    “Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai.”

    Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

    Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

    “Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,” rintihnya dengan amat sedih, “Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?”

  13. Rastya Prastiwi .H.

    Cerpen Horor
    Derap lagkah seorang gadis memecah keheningan malam itu. Seakan tak mempedulikan hujan yang dari tadi mengguyurnya, Ia berhenti sejenak di bawah pohon untuk mengatur napasnya yang memburu. Sayangnya tidak lama kemudian, muncul segerombol orang yang ternyata mengejarnya dari tadi. Ketika sampai, orang-orang tersebut justru memukuli si gadis. Bukan hanya dipukuli, tetapi juga ditampar, ditendang, bahkan dilecehkan. Akhirnya gadis itu tidak sanggup lagi, ia memejamkan matanya pasrah dan meregang nyawa. gadis itu terus berlari seakan dikejar-kejar oleh setan. Beberapa tahun kemudian………
    Jam pertama di kelas IX-I SMP N 1 Bimasakti di awali oleh perkenalan seorang siswi baru. Pak Beno, guru mata pelajaran pertama mempersilahkan siswi barunya itu untuk memperkenalkan dirinya.
    “Selamat pagi semua!!” Sapa siswi baru itu.
    “Pagi!!!” Balas semua anak yang ada di kelas IX-I.
    “Perkenalkan, nama saya Lena, saya pindahan dari SMP N 2 Tunas Emas, semoga kita dapat berteman baik,” Katanya sambil tersenyum ramah.
    “Baiklah, Lena, kau boleh duduk di bangkumu sekarang,” Kata Pak Beno, mempersilahkannya untuk duduk. Lalu Pak Beno mulai mengabsen mereka. Ketika Pak Beno mulai membuka absent, anak-anak di kelas mulai gelisah, seperti ada sesuatu yang membuat mereka cemas.
    “Alfin!” Pak Beno mulai memanggil nama muridnya satu persatu.
    “Hadir!”
    “Anas!!”
    “Hadir, Pak!” Pak Beno terus memanggil, sampai akhirnya di urutan yang ke-13, entah kenapa seisi kelas langsung menegang. Mereka semua menunggu nama anak yang akan dipanggil oleh Pak Beno selanjutnya.
    “Lena!!!”
    “Hadir, Pak!!” Balas Lena. Tetapi tiba-tiba, seisi kelas langsung menatap gadis itu dengan tatapan ngeri. Linda dan Samuel yang duduk di dekatnya langsung menggeser bangku dan meja mereka jauh-jauh dari Lena. Lena menatap teman-temannya dengan tatapan tidak mengerti. Kenapa sih dengan mereka?? Batinnya. Saat jam istirahat, Lena yang sedang berjalan-jalan di koridor kelas, tiba-tiba menginjak sebuah kulit pisang lalu terpeleset dan terjatuh. Bukannya menolong, teman-teman Lena malah mengerumuninya dan menatapnya dengan pandangan ngeri. Jam ketiga adalah jam olahraga, dan materi olahraga mereka kali ini voli. Entah sudah berapa kali tadi wajah Lena terkena lemparan bola. Bahkan saat bertanding, salah seorang teman Lena men-smash bola dan tepat menganai wajah Lena. Hidung Lena mengeluarkan darah dan dia pingsan. Lena tersadar di ruang UKS. Ia melihat seorang perawat yang kebetulan berada di ruangan itu. “Mbak…,” Panggilnya pelan. “Eh… Adek sudah sadar!” Ucap perawat itu girang. “Makan dulu ya,” Kata perawat itu sambil meletakkan nampannya di meja sebelah tempat tidur Lena.
    “Ah, iya, terima kasih…,” Balas Lena, sambil berusaha tersenyum.
    “Adek tadi pingsan, untung beberapa teman adek langsung cepat melaporkannya,” Cerita perawat itu. Iya, dia memang pingsan, tetapi bukan karena terkena smash, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan mungkin teman-temannya tidak tahu. Saat jam pertama tadi, ketika pelajaran sudah dimulai, ia selalu merasa ada orang yang mengamatinya dibelakang, tetapi ketika ia berbalik, tidak ada siapa-siapa, jelas saja tidak ada, diakan duduk di deretan terakhir. Lalu saat makan siang di kantin, ia memesan semangkuk bakso, tetapi ketika ia mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 bola mata, bahkan mienya berubah menjadi cacing kalung yang besar-besar. Lalu saat di ruang ganti, ketika ia membuka lokernya, ia menemukan mayat didalam lokernya itu, ia berteriak histeris, tetapi karena tidak ada orang, jadi tidak ada yang mendengar teriakannya. Saat sedang lari pemanasan, ia tersandung sesuatu dan ketika dilihatnya ternyata ada sebuah tangan yang tadi memegang pergelangan kakinya. “Adek,” Panggil perawat itu lagi, membuyarkan lamunan Lena.
    “Eh, ya.. ad, ada apa mbak?” Lena gelagapan.
    “Enggak baik lho ngelamun siang-siang, nanti kesambet!” Perawat itu menakuti-nakuti Lena. “Maaf mbak ada yang ingin saya tanyakan,” Kata Lena. “Kenapa rasanya saya hari ini sial terus ya? Bahkan terkadang, sayang melihat hal yang aneh-aneh.” “Hal yang aneh-aneh? Seperti apa contohnya?” Tanya perawat itu, ia mulai ketakutan.
    “Waktu istirahat, saya memesan bakso di kantin, tetapi ketika saya mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 buah bola mata, waktu saya hendak mengganti baju di ruang ganti, saya melihat mayat di loker saya, dan terakhir ketika pemanasan, pergelangan kaki saya dipegang oleh tangan aneh sampai saya terjatuh,” Kata Lena. Apa sebaiknya kuceritakan? Batin perawat itu. Namun akhirnya ia putuskan untuk menceritakannya, tragedi yang terjadi di SMP N 1 Bimasakti 13 tahun yang lalu.
    “Adek ingin tahu kenapa hari ini adek selalu sial?” kata perawat itu. Lena menjawab dengan anggukan cepat. “13 tahun yang lalu, terjadi tragedi yang cukup mengenaskan di SMP N 1 Bimasakti ini, saat itu ada seorang gadis yang sangat tidak beruntung, ia selalu menjadi bahan tertawaan dan ejekan dari teman-temannya, lalu saat ulang tahunnya yang ke-13, teman-temannya mengerjainya habis-habisan sehari penuh, entah itu dilempari mercon, tepung, telur busuk, dikunci dalam kamar mandi, ditukar makan siangnya, atau pun di tuduh melakukan suatu kejahatan, namun rupanya teman-teman gadis itu sudah kelewatan, mereka memfitnah gadis itu mencuri uang kakak kelas mereka, karena marah, kakak kelasnya itu pun menghajarnya habis-habisan, tetapi gadis itu berhasil melarikan diri, sayangnya tidak berapa lama kemudian, ia tertangkap lagi dan akhirnya ia meregang nyawa karena disiksa lebih parah. Tidak tahu harus berbuat apa, kakak kelas beserta teman-temannya memutuskan untuk mengubur jenazah gadis itu, dan sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan.” Perawat itu mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan kembali. “Sebelum mati, gadis itu bersumpah untuk membunuh setiap orang yang mendapat absen nomor 13, kenapa begitu? Itu karena penyebab teman-temannya selalu mengejek dan mengerjainya adalah karena mereka percaya bahwa angka 13 membawa sial, jadi mereka ingin membuktikan hal tersebut dengan cara mengucilkan, mengejek, dan menyiksa orang yang mendapat absen nomor 13 di kelas mereka, dan si gadis itu kebetulan mendapat nomor absen yang ke-13.”
    JDAARRR!!! Tiba-tiba kilat menyambar dan mengagetkan Lena juga perawat itu. Langit yang tadinya cerah telah berubah menjadi mendung, dan tidak lama kemudian hujan pun turun. Lampu di ruang UKS tiba-tiba mati. Lena dan perawat itu ketakutan. Samar-samar mereka mendengar suara rintihan seseorang. “Tolong… tolong….” Suara itu makin terdengar jelas, dan tiba-tiba dari bawah ranjang Lena muncul sesosok mahluk, perawat yang tadi duduk di sebelah Lena langsung menjauh dan menjerit ketakutan. Mahluk itu berlumurah darah dan wajahnya tidak terlalu jelas karena lusak, kulit-kulitnya dipenuhi koreng dan luka-luka yang sudah membusuk. Bau tak sedap pun tercium dari mahluk itu.
    “Tolong….,” Mahluk itu berbalik ke tempat Lena berbaring. Lena refelks bangkit, ia berdiri di atas ranjangnya melempari mahluk itu dengan benda-benda yang ada disekitarnya.
    “Hentikan! Hentikan! Jangan bunuh aku!! Aku belum ingin mati!!!” Lena histeris, ia loncat dari sisi lain ranjang dan berlari ke tempat si perawat. Mahluk itu tidak mengejar, ia memandang Lena dari tempatnya berdiri, perlahan-lahan setetes darah jatuh di atas lantai, mahluk itu menangis darah. “Tolonglah aku…. kuburkanlah jasadku dengan layak….,” Setelah berkata seperti itu, mahluk itu raib. Lampu yang tadi mati hidup kembali, tetapi Lena dan perawat itu masih gemetar ketakutan. Wangi anyer dan amis darah masih membekas di ruangan itu, bahkan tetesan darah mahluk tadi masih ada di lantai. Perawat itu akhirnya memberanikan diri untuk bergerak kembali, ia mengambil pel untuk membersihkan lantai UKS yang kotor. Lena pun ikut memberanikan dirinya juga, ia berniat untuk membantu si perawat, tetapi ketika hendak mengelap lantai yang berbecak darah tadi, ia melihat rangkain tulisan yang berasal dari bercak darah itu, “U… K…S..,” Lena mengejanya. Tiba-tiba terpampang jawaban di kepalanya.
    “Mbak! Saya tahu dimana jasad gadis itu!” Serunya gembira. “Benarkah? Dimana??” Tanyanya.
    “DI UKS!!!” Jawab Lena. “13 tahun yang lalu disekolah ini belum ada UKS kan??” “Belum ada!! Mungkin memang dikubur di bawah ruang UKS!” Lalu keduanya saling bersorak gembira. Keesokan harinya, Lena dan perawat di UKS itu meminta tolong kepada kepala sekolah untuk mengirim tim penyelidik. Dan siangnya tim penyelidik yang mereka panggil itu menggali di sekitar mahluk itu muncul. Akhirnya setelah lama menggali, mereka menemukan tulang-belulang yang cukup besar yang diduga itu adalah tulang badan gadis yang tewas 13 tahun lalu itu. Bahkan mereka menemukan tengkorak kepalanya dan beberapa benda seperti jam tangan dan kalung milik gadis itu. Setelah semuanya dikebumikan dengan layak, Lena melihat samar-samar bayangan yang melambaikan tangan padanya dan mengucapkan “terima kasih”. Lena tersenyum bahagia dan membalas melambaikan tangan juga. Dan bayangan itu menghilang….. untuk selamanya…………

  14. Nurhaliza Indah Puspitasari

    Air mata terakhir
    “ Marg..marg…” begitulah cara kucingku memanggilku. Tidak banyak yang bisa aku lakukan dirumah sebagai anak tunggal, namun bukan berarti tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Gita Omeangti, itu adalah nama yang kuberikan pada kucingku. Warnanya kuning dan putih, badannya gendut dan suka melamun dipagi hari.
    Saat senja tiba, kedatanganku selalu disambut baik olehnya meski sebenarnya dia hanya menginginkan makanan yang selalu aku bawa ke rumah. Sering kali aku menjahilinya. Disaat dia sedang tidur, aku mengoleskan minyak kayu putih dihidungnya dan dalam waktu lima detik dia akan meloncat layaknya spiderman yang mengelak dari serangan tinju delapan tangan squidword.
    “ Ha..haha…haha… rasakan !”
    “ Jangan ganggui kucingmu itu mar, nanti marah dia”
    “ Hah, kalau marah paling mengeong. Tenang saja mak”
    Ketika kau memiliki masalah yang tak bisa kau ungkapkan, kau pasti akan mencari seseorang untuk mendengarkan cerita mu. Banyak temanku yang sangat beruntung akan hal itu. Yang menjadi tempat pelampiasan hatiku hanyalah Omeng. Terkadang aku berimajinasi bahwa Omeng bisa mengerti apa yang aku ucapkan.
    Aku mengangkatnya dan meletakkannya tepat didepan ku. Aku menutup kamarku dan aku mulai bercerita tentang apa yang aku rasa kepadanya. Sesaat aku diam sejenak dan memperhatikan kucingku. Aku ingin marah dan membentaknya. Ingin sekali pada saat itu aku mengatakan
    “ Bisakah kau diam sebentar dan berhenti menjilati bulumu yang tidak seberapa itu dan memperhatikan ucapanku ?” tapi untung saja aku masih waras dan tidak mengatakannya.
    Saat semua suara tidak dapat lagi aku dengar dan suasana ruangan semakin senyap, tiba-tiba air mataku terjatuh dari sudut mata kananku. Aku menangis… aku menahan rintihan suara tangisku dengan menggigit bibir bawahku. Kenapa aku berbeda dengan mereka? Aku tidak pernah menginginkan menjadi anak tunggal. Semua ini membuatku menjadi sosok wanita yang pendiam dirumah namun saat berada diluar, aku menjadi anak yang bandal dan selalu mencari perhatian dari setiap orang agar mereka memperhatikanku.
    Ketika semua ungkapan hati itu muncul dalam hatiku dan keluar melalui air mata, sesuatu memanggilku.
    “ Marg..marg…”
    “ Apa , tanyaku pelan”
    “ Kenapa aku begitu bodoh, aku tidak pernah sendirian. Aku selalu bersamamu dan kau selalu menemaniku.” Saat itu juga aku memeluk Omeng dan bembisikkan sesuatu di kupingnya.
    “ Apa kau lapar ?”
    “ Marg…”
    “ Sudah kuduga, kau memanggilku ternyata karena ingin makan dan bukan ingin menghiburku. Sial … aku terkecoh. Dasar gendut.” Sambil mencubit pipinya.
    Keesokan harinya disaat aku mengajak omengku berjalan-jalan di tepi danau buatan dekat rumahku dengan mengendarai sepeda, tiba-tiba sesuatu terjadi padaku. Bruukkk…………. aku terlempar ke samping dan tercebur ke dalam danau. Sesuatu menabrakku dari belakang. Aku menggerak-gerakkan tangan dan kakiku agar bisa mencapai atas danau namun rasa sakit yang aku rasakan akibat kecelakaan itu terlalu sakit aku rasakan. Dan secara perlahan tubuhku menjadi lemas, air yang masuk dalam mulutku telah menghalangi nafasku. Saat itu tidak ada lagi yang dapat kurasakan.
    Mataku telah dapat terbuka dan nafasku telah bersamaku kembali saat itu. Orang-orang itu membawaku secara perlahan, namun angin pada saat tidak dapat aku rasakan. Sesuatu membuat hatiku janggal. Namun aku tidak tahu apa itu, secara tiba-tiba aku teringat sesuatu. Omeng.
    “ Aarrghhh……………” teriakku pada langit yang tak berawan.
    Tanpa fikir panjang aku turun ke dalam danau itu dan berusaha kembali mencari kucingku. Angin tiba-tiba bertiup kencang dan mataku tidak dapat melihat dengan baik. Ku usap mataku dengan tanganku dan secara perlahan aku melihat sesuatu menghampiriku. Kulihat bangkai kucingku terseret oleh air yang dihembus oleh angin.
    Aku mendekatinya dan mengangkatnya seperti saat aku mengangkatnya dulu. Aku lihat wajahnya yang telah beku dan basah. Aku memanggil namanya, aku belai kepalanya berharap dia membalas ucapanku, namun tidak ada jawaban darinya. Lalu aku mengangkat kepalaku ke atas dan menutup kedua mataku berharap air mataku tidak dapat keluar dari kedua mataku.
    Aku tahu ini percuma, kemudian aku kembali ke atas dan membawa pulang kucingku tanpa ditemani penduduk setempat. Sesampainya di rumah aku melihat kedua orang tuaku belum pulang bekerja. Dan sesampainya aku dikamar, aku mengeringkan tubuhnya diatas kasur kamarku dan menyelimutinya. Sejenak aku tidur disampingnya dan membisikkan sesuatu di kupingnya.
    “ Bagaimana bisa kau pergi dariku sementara kau berada di hatiku.”
    Tak selang beberapa lama, omeng menghembuskan nafas terakhirnya.
    Dengan air mata terakhir, aku kuburkan kucingku.

    Sekian..

  15. [Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan
    Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
    Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
    Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, “Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kakc”. Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesalc
    Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
    Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

  16. Anggraheni Aisyah Setyaningsih

    CINTA SEJATI
    Harus! Titik! Nggak ada tapi-tapian lagi! Apapun yang terjadi dia harus bisa! Yap, apalagi kalo bukan harus langsing! Itu misi terpentingnya. Itu cita-citanya yang paling diimpikan siang malam, pagi sore, pokoknya segera. Darurat deh! Doo segitunya? Emang seh, cita-citanya nggak semulia orang lain malah kesannya malu-maluin, tapi Suci nggak peduli. Dia tetep keukeh pengen langsing mendadak, kalo bisa malah lebih instan daripada buat mie.

    Sebenernya kalo dipikir-pikir Suci tuh nggak gendut amat cuma agak kelebihan berat badan doang (ye, itu sih sama aja!) dalam rangka merencanakan strategi pelangsingan yang oke punya, maka disinilah Suci berada. Di depan kaca besar dalam kamarnya yang serba pinky. Tepatnya sudah satu jam lebih 34 menit plus 10 detik. Mungkin kalo kacanya bisa ngomong kayak di dongeng, doi bakalan misuh-misuh alias bete abis… “Woiii, gue udah pegel nih diplototin mulu dari tadi! Berenti kenapa?” kurang lebih gitu kali. Sayang aja, kacanya nggak bisa protes. Dan Suci masih aja puter-puter mirip gasing. Ih… kurang kerjaan banget sih? Akhirnya Suci berhenti juga muter-muter dan coba-coba jilbab yang super ribet (baginya), kepalanya mulai pening, nyut-nyutan gara-gara kebanyakan muter. Untung belum oleng, tapi Suci masih belum selesai juga. Sekarang dipegangnya pipi yang lumayan gembil itu. Huh, apa tadi kata Dinda? Tembem? Masak sih? Tapi…emang tembem, sampe matanya jadi keliatan lebih kecil ketutup dengan pipinya. Kebayang kan gimana betenya Suci? So, menimbang, memilih dan memutuskan (ceile, lagaknya kayak direktur aja) hari ini Suci menyatakan perang dengan segala makanan dan hal lain yang berkaitan erat dengan kegemukan termasuk sama coklat yang paling dia sukai. Motto Suci yang tadinya tiada hari tanpa ngemil, terpaksa harus disingkirkan. Tapi, apa sih sebenernya yang bikin Suci jadi mati-matian mau langsing gitu?

    Sebelumnya Suci oke-oke aja dengan bodynya yang lebih berisi dibanding cewek seangkatannya. Tapi itu dulu! Waktu Suci masih wajib peke seragam putih biru. Sering sih, dia diledek oleh teman sekelasnya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, pas Suci udah jadi siswa SMA, mulai deh uring-uringan. Tadinya dikit tapi tambah lama tambah berat. Terus, mendadak jadi hal yang prinsipil.

    Kantin sekolah (jam istirahat)
    “Din, Din!”
    “Emangnya aku klakson?! Apaan sih! Gangguin kenikmatan orang lagi makan aja!”
    “Liat deh, liat deh! Itu tuh, mas Yusuf ketua rohis sekolah kita lagi sama anak kelas satu yang baru masuk.”
    “Ada apa sama mereka?”
    “Mesra amat, seh!”
    “Yee…bolehnya cembokur.”
    “Ih, siapa yang cembuu? Heran aja. N’tu anak biasanya kan dingin banget sama cewek…”
    “Kulkas kali…”
    “Eh, Din, Din…”

    “Uh, Suci…kalo manggil nama aku sekali aja dong! Gak usah diulang-ulang, jadi kayak klakson kedaraan tau! Kenapa lagi?”
    “Apa cewek kelas satu itu nggak risih duduk berduaan sama cowok? Mana rapeet benget. Padahal dia kan…”
    “Pake jilbab?”
    “Iya. Harusnya dia malu dong sama jilbabnya! Masa’ akh…akh…apa namanya, Din?”
    “Akhwat.”
    “Iya. Akhwat, masa’ kelakuannya gawat gitu. Mana di tempat umum lagi…apa dia gak malu, diliatin sama anak-anak lain?”
    “Tapi, Ci…”
    “Ih, mending lepas aja jilbabnya!”
    “Lho, kok?”
    “Buat apa pakai jilbab kalo kelakuannya gak Islami gitu?”
    “Tapi Annisa…”
    “Ah, siapapun namanya, ketika seorang wanita telah memutuskan berjilbab, seharusnya dia bisa menyesuaikan kelakuan dengan pakaian yang dikenakannya. Tapi anak kelas satu itu…”
    “Annisa?”
    “Iya, iya… Annisa, kamu sendiri sebagai akh… akh…”
    “Akhwat.”
    “Iya itu, apa kamu nggak risih melihat mereka dua-duaan gitu? Aku aja belum pake jilbab gak gitu-gitu amat kalo sama cowok…”
    “Ha ha ha… kamu pasti cemburu sama Annisa, kan?”
    “Idiih… siapa yang cemburu?!”
    “Gak cemburu tapi mukanya merah…”
    “Masak sih, Din?”
    “Liat aja sendiri di kaca!”
    ***

    Ruang kelas XI ipa 4, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
    “Din, Din!”
    “Suci…! Kali ini apa lagi? Cepetan kalo mau cerita, aku lagi sibuk ngerjain PR kimia!”
    “Masih soal mas Yusuf sama anak kelas satu itu.”
    “Kenapa lagi mas Yusuf sama Annisa?”
    “Kemarin aku liat mereka jalan berdua di Sriwedari! Mereka bener-bener udah jadian, ya?”
    “Jadian?”
    “Iya, pacaran!”
    “Suci, mereka itu…”
    “Pacaran, kan? Uh, sebel banget deh ngliat mereka jalan berduaan…”
    “Hayo! Kamu naksir kan sama ketua rohis sekolah kita itu?”
    “Naksir? Aku? Sama mas Yusuf?”
    “Iya, kalo gak naksir, kenapa harus sebel melihat mereka jalan berduaan?”
    “Oh, eh, i…i…tu…”
    “Ngaku aja, deh! Naksir juga nggak apa-apa.”
    “Ngg.. anu… hehe… iya sih, Din…”
    “Huh, ngomong gitu aja kok susah amat…Udah ah, lagi sibuk, nih.. masih banyak soal yang belum aku kerjakan.”
    “Eh Din… terus gimana, dong? Gimana caranya supaya mas Yusuf suka sama aku?”
    “Lho! Bukannya selama ini mas Yusuf emang suka sama kamu?”
    “Masa sih, Din? Kamu tau dari mana?”
    “Yang aku liat begitu, Uci mas Yusuf itu suka ama kamu.”
    “Yang bener, Din?”
    “Iya, suka… nyuekin kamu! Huahaha…hahaha”
    “Dindaaaaaaaaaaa!!!…!”

    ***
    Emang sih kalo mau dibandingin Suci sama Annisa itu jauh banget, Annisa itu cewek kalem, pintar, imut, n yang pasti nggak segendut Suci.

    Teras depan rumah Dinda, siang menjelang sore.

    “Gawat, Din! Gawat Din! Aku liat mas Yusuf boncengin Annisa pakai motor!”
    “Dimana letak gawatnya?”
    “Annisa duduknya rapeeeeet banget, pake meluk pinggangnya mas Yusuf segala!”
    “Biarin aja, biar gak jatoh kali. Diakan kecil anaknya, nggak kaya kamu!”
    “Emang kenapa sama aku?”
    “Kamu kan gede, jadi gak bakalan jatoh kalo ketiup angin, tapi…”
    “Tapi apa Din…?”
    “Jatoh juga sih!… kalo kamu yang bonceng, kamunya gede, mas Yusufnya kurus ya bakal…”
    “Bakal apa?”
    “Bakal… jungkir balik, alis ngejengkal… hihihi”
    “Iiih… Dinda”
    “Apa iya mas Yusuf milih cewek yang ramping?”
    “Iya kali”
    “Hemm… kalo gitu aku musti diet ketat nih!”
    “Whats? Suci diet?! Apa nggak salah denger!”
    ***
    Ini jamu apa comberan ya? Kok… baunya ngalahin got depan rumah? Suci gak abis pikir, begitu beratkah perjuangan yang harus dilaluinya demi pinggul yang seksi, perut yang rata dan ops, tentu aja, pipi yang nggak tembem kaya bakpao. Glek! Glek! Suci merem sempet megap-megap sebentar. Hihi… kayak ikan mas koki keabisan air. Perutnya seperti dikitik-kitik, kayak mau muntahin sesuatu. Jamu tadi, tapi Suci udah bertekad baja. Apapun yang terjadi, jamu itu harus ngendon di perutnya. Nggak boleh keluar lagi. Hhhh… Suci menderita sekali.

    Seandainya mas Yusuf tau betapa besar pengorbanannya demi bisa diboncengin ketua rohis itu, biar gak ngejengkal, kan kasihan juga mas Yusufnya. Ini sudah merk jamu yang ketujuh, yang dicobanya. Dan tak sedikitpun perubahan terjadi pada bodynya. Lemak pipinya tak berkurang meski hanya satu milimeter. Padahal ia sudah memasuki babak kesepuluh hari sejak ia menyatakan perang terhadap kegendutan.
    ***
    Jamu udah! Pil pelangsing udah! Teh hijau biar singset udah! Pake magnet di perut sampe sesak nafas udah! No coklat, no es krim, udah! Padahal itu makanan favoritnya lho. Berenang seminggu sekali (meski lebih banyak air kolam yang ketelen ketimbang berenang). Juga udah! Anti makan nasi udah! Puasa makan pas lewat dari jam enam sore, udah! Yang terakhir, seminggu belakangan ini, dia cuma makan apel doang. Beneran Cuma apel tok! Pagi, sarapan apel, siang, makan apel, malem, apel lagi. Muka Suci aja udah mirip apel, bulat kemerahan.

    Sampe-sampe kemarin, pas upacara, dia hampir pingsan. Nyaris! Matanya kunang-kunang. Yang keliatan cuma bintik-bintik putih yang rada mengkilat, terang, kedip-kedip. Buru-buru dia pegangan di bahunya Dinda, kalo nggak, pasti deh dia udah gedubrak di lantai.Yang ada di kepala Suci, Cuma bayangan apel, apel dan yap apel again!

    “Udah deh Suci jangan diterusin lagi…”
    “Ah, aku masih kuat kok…”
    “Kamu udah gila? Nggak cukup tadi kamu mau pake acara pingsan segala?”
    “Itu kan nyaris, belum pingsan beneran!”
    “Oke! Gini aja, aku nggak mau ngurusin kamu lagi kalo besok kamu pingsan beneran!”
    “Yah, kamu segitunya ama aku, siapa lagi yang mau nolongin aku kalo bukan kamu, pliss!”
    “Salah kamu sendiri! Diet kok nggak kira-kira?”
    “Abis gimana dong! Aku harus langsing, ini mutlak! Ini menyangkut mati hidupnya aku!”
    “Suci…emang kalo kamu langsing, apa mas Yusuf pasti bakal mau jadi pacar kamu? Ini lagi, kamu jadi ikut-ikutan pake jilbab, mending kalo pake jilbabnya karena Allah ta’ala tapi ini malah melenceng, cuma demi merebut perhatian mas Yusuf dari Annisa!”
    “Namanya juga usaha!”
    “Usaha sih boleh, tapi apa usahamu, pengorbananmu setimpal harganya dengan seorang Yusuf?”

    Suci diam, iya juga sih! Kenapa mas Yusuf harus menjadi begitu penting baginya? Mengalahkan rasa perih yang musti dideritanya saat menahan lapar. Mengalahkan lelahnya setiap kali ia jogging, berenang, sit up. Mengalahkan nasib lambungnya yang jadi bahan percobaan segala merek obat pelangsing. Mengalahkan kepalanya yang nyut-nyutan karena seminggu ini ia bela-belain hanya memakan apel. Mengalahkan rasa gerahnya pake jilbab karena buat nyaingin penampilan Annisa cewek kelas satu itu. Beginikah susahnya? Padahal ia hanya ingin merasa disayangi, dicintai? Hanya itu. Tidak lebih. Tidak berhakkah ia untuk merasakan semua itu?
    ***
    “Kamu pengen dicintai, disayangi dengan keadaan kamu yang apa adanya ini kan?” Suci menggeleng, tak mengerti ke arah mana pembicaraan Dinda.
    “Kamu pengen, ada yang menyayangimu, nggak peduli kamu gembrot, jerawatan, kulit bersisik, rambut pecah-pecah, idung bulu keriting…”
    “Hei! Stop! Stop! Kok malah ngejekin aku?”
    “Ups, sory! Aku terlalu bernafsu…”
    “Emangnya ada?”
    “Oh, jelas! Bahkan lebih hebat dari siapapun dan apapun di dunia ini. Maha segalanya. Gak ada tandingannya deh!”
    “Kalo kamu misal suatu saat jadian sama mas Yusuf, pasti ada berantemnya. Pasti ada sedihnya, betenya, empetnya, marahnya, belum lagi kalo mas Yusuf misal suka sama cewek lain, wuih… kamu pasti sakit ati banget kan?”
    “Kok doa kamu jelek banget sih?”
    “Bukannya gitu. Ini kan fakta yang bakal kamu alamin kalo jadian sama dia… Nah kalo sama yang aku calonin tadi, kamu nggak bakal sakit ati. Never deh! Promise!” Dinda mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
    “Siapa sih?”
    “Allah…!”

    ***
    Kok semuanya serba putih? Dimana dia? Apa ini mimpi? Suci menatap nanar sekelilingnya. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mencubit pipi, biar ia segera tahu ini mimpi atau bukan. Tapi, waa… kok ada selang infus di tangannya? Buat apa? Memangnya dia sakit? Kapan? Kok dia nggak ngeh? Diliriknya Dinda yang menelungkup di pinggir tempat tidur. Kayaknya sih tidur, kalo gitu, beneran dong ini rumah sakit! Pengen ngebangunin Dinda, mau nanya kenapa ia bisa ada di sini tapi kok ya… nggak tega. Liat aja muka Dinda, meski cuma separo pipinya yang keliatan, tapi jelas ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Pasti kurang tidur, ngapain dia begadang? Ye, tulalit amat! Begadang nungguin dia lah, siapa lagi? Suci berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya.

    Mmm… apaan ya? Kayaknya di sekolahan deh! Trus… apa ya? Suci berusaha keras mengingatnya. Kepalanya jadi cenut-cenut. Tapi Suci nggak berenti mikir. Ah, ya! Dia ingat sekarang! Waktu itu, perutnya perih banget, jalannya udah lemes, diseret-seret karena tenaganya udah drop. Dia telentang di Mushola SMA nungguin Dinda yang lagi sholat. Dia sendiri? Hihi… masih bolong-bolong sholatnya. Tergantung mood, meskipun dia udah berjilbab. Huss! Bukannya nyadar kok malah ngikik. Abis itu apa ya? Kayaknya sampe disitu deh! Seterusnya gelap, ya… gelap.

    Kepala Dinda bergerak, tangannya menggeliat, air mukanya terkejut, campur bahagia melihat Suci yang udah bangun.
    “Eh, kamu udah bangun ya?”
    “Aku bego ya, Din?”
    “Siapa yang bilang kayak gitu?”
    “Aku bener-bener idiot, kan?”
    “Ssshh… nggak bagus ngomong kayak gitu.”
    “Aku bego… mau-maunya kayak gini cuma gara-gara…”

    Air mata Suci mulai merembes.
    “Kamu nggak bego cuma khilaf…”
    “Udah deh, Din! Nggak usah ngehibur aku! Aku tau, aku ini bener-bener stupid!”
    “Eh kamu tahu Annisa itu?”
    “Udah deh Din! Aku nggak mau nginget-nginget tentang itu!”
    “Mereka kakak beradik”
    “Hah…! Yang bener kamu?”
    “Ye, kamu nya sih kebiasaan, kalo orang ngomong itu dengerin dulu, jangan nyerocos terus!”
    “Jadi! Bukannya karena mas Yusuf suka sama cewek yang langsing & pake jilbab kaya Annisa itu?”
    “Wah, kalo itu mana aku tahu…”
    “Uh, udah dibela-belain diet ketat plus pake jilbab sampe kepala aku rasanya gatel banget, lagi…”
    “Terus, kamu mau lepas jilbab kamu?”
    “Yah, ehm… gimana ya…”
    “Kamu nggak malu lepas jilbab? Jilbab itu bukan buat mainan tau!”
    “Aku gak lepas jilbabku.”
    “Nah, gitu dong!”
    “Tapi… aku masih bisa kan ngecengin mas Yusuf?”
    “Suci, udah deh, aku gak mau nungguin kamu di rumah sakit lagi kalo kamu jatuh sakit lagi gara-gara pengen diet!”
    “Ya, ya… aku bakal berenti diet!”
    “Nah, itu baru Suci temanku.”
    “Aww, sakit tau pipiku dicubit!”
    “Habis kamu ngegemesin sih!”

    Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja, otak Suci memutar ulang memorinya tentang ucapan Dinda waktu itu. Tentang ada yang bisa menyayanginya bagaimanapun buruknya rupa dia. Ada yang bisa menyayanginya tanpa ia harus berkorban menjadi langsing.

    Ada! Suci yakin sekali, dia memang selalu menyertai kita, memperhatikan kita, mengawasi kita, menyayangi kita lebih dari siapapun, dialah Allah swt. Hanya Allah-lah yang mengerti tentang diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah kita patut mencurahkan cinta sejati.

    SINOPSIS CERPEN CINTA SEJATI
    Suci siswi SMA kelas 2 mempunyai kelebihan berat badan serta mempunyai teman yang bernama Dinda yang baik dan berjilbab yang selalu memberi semangat dan setia menemaninybaik suka maupun duka. Suatu hari Suci ingin melakukan diet dan berjilbab seperti Aisyah siswi kelas 1 yang sering kelihatan berdua dengan Yusuf ketua Rohis SMA. Ternyata Suci menyukai Yusuf yang ganteng, pintar dan alim. Demi mendapatkan perhatian dari Yusuf, Suci rela tidak sarapan dan merubah kebiasaannya ngemil. Tetapi Suci salah sangka dengan Aisyah yang ternyata adalah adik kandung Yusuf. Suci menyadari kesalahannya yang berjilbab dengan niat hanya untuk merebut perhatian Yusuf dan berdiet sampai sakit dan masuk Rumah Sakit juga menyadari bahwa ada yang bisa menyayanginya tanpa ia harus berkorban menjadi langsing. Yaitu Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Allah swt. yang mengerti tentang diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah kita patut mencurahkan cinta sejati.

  17. firdaus anggoro firmansyah

    Dari Sebuah Diary Hati
    “Tak Kan Pernah Ada” masih mengalun dari MP3-nya Andre. Mulutnya ikut komat-kamit mengikuti irama lagunya Geisha. Hmm, kelihatannya Andre begitu menjiwainya. Kenapa nih anak jadi termehak-mehek begini ya? Memang ada yang lain dalam diri Andre. Setelah setahun persahabatannya dengan Rere berjalan. Susah senang dilaluinya bersama. Rere memang sahabat yang baik dan manis. Mang begitu kok kenyataannya. Bukannya Andre berlebihan dalam menilainya. Sahabat yang di saat duka selalu menghibur dan di saat suka selalu hadir tuk berbagi tawa. Rere pernah bilang kalo semua saran Andre selalu diturutin dan begitupun sebaliknya. Pokoknya di mana ada Andre di situ ada Rere. Begitulah hampir setiap ada kesempatan mereka selalu pergi bersama-sama. Gak ada pikiran yang “aneh”. Gak ada perasaan apa-apa termasuk cinta!.

    Tapi kenapa Rere sampai saat ini belum juga punya cowok ? Padahal kalo dipikir-pikir Rere gak sulit untuk mendapatkan cowok. Mang sih Rere adalah tipe cewek yang sulit jatuh cinta. Gak sembarangan Rere menilai seorang cowok. Ya memang, inilah yang membuat Andre takut. Takut perasaannya hanya akan menjadi permainan waktu semata. Waktu yang entah sampai kapan akan membuat Andre terombang-ambing oleh cinta. Apakah ini cinta? Ya, ini adalah cinta. It must have been love kata Roxette. Ah, Andre terus memendam perasaannya. Sampai-sampai suatu ketika Andre dikecam oleh perasaan cemburu. Perasaan yang dulu gak pernah ada kini muncul. Cemburu saat Rere menceritakan kalo ada cowok yang naksir padanya. Apakah cemburu pertanda cinta? Kata orang cemburu tidak mencerminkan rasa cinta tapi mencerminkan kegelisahan. Aduh, Andre makin ketar-ketir aja dibuatnya. Andre benar-benar gelisah. Lama-lama tersiksa juga batinnya. Ada keinginan yang harus diutarakan. Tentang masalah perasaan Andre yang gak karuan tentang Rere. Cuma gak ada keberanian. Andre takut kalo Rere membencinya. Ini gak boleh terjadi.

    Kemudian akhirnya Andre berusaha untuk melupakannya tapi gak bisa, malah rasa sayang yang semakin membara. Apakah salah kalo Andre ingin menjalin hubungan yang lebih hangat bukan hanya sebagai seorang sahabat? Hmm, Andre harus berani. Harus berani ambil segala resikonya.

    “Rere, aku mencintaimu” kata Andre akhirnya setelah sekian lama dipendamnya. “Aku akan serius ma kamu dan mau menyayangimu seutuhnya”.

    Ia pandangi wajah Rere. Gak ada amarah di wajahnya yang ada hanya tangis. Ups, Rere menangis. Andre makin bertanya-tanya. Baru kali ini Andre melihat Rere menangis.

    “Kenapa Re? Apa kata-kata ku nyakitin perasaan kamu?”

    Rere menggeleng. Sambil masih terisak ia coba menjelaskan ke Andre. Andre siap mendengarkan jawaban Rere. Apapun itu meskipun kata “tidak” sekalipun. Dan benar juga, kata tidak yang terlontar dari mulutnya. Ya, Andre harus menerimanya. Sepeti kata Eric Segal dalam bukunya, “Cinta berarti kamu takkan sekali saja melafalkan kata sesal”. Rasanya dada terasa mau jebol, gerimis serasa hujan badai. Sepinya malam itu terasa lebih sunyi seolah hanya mereka berdua saja di alam ini. Tak ada suara hewan atau serangga yang meramaikan bumi.

    “Maafin aku ya, Ndre?” tangan Rere menggenggam jemari Andre. Andre terdiam. “Kamu pasti kecewa ma jawabanku, ya? Tapi itu bukan berarti aku gak ada ‘rasa’ ma kamu. Aku hanya takut perasaan ini hanya ilusi aja”.

    “Re, Jika cinta ini beban biarkan aku menghilang. Jika cinta ini kesalahan biarkan aku memohon maaf. Jika cinta ini hutang biarkan aku melunasinya. Tapi jika cinta ini suatu anugerah maka biarkanlah aku mencintai dan menyayangimu sampai nafas terakhirku” Andre tetap gak yakin akan perasaannya. Andre merasa Rere akan meninggalkannya selamanya. Kemudian dipeluknya Rere erat-erat. Dibelainya rambutnya dengan penuh kasih sayang.

    “Aku gak mau kehilangan sahabat yang begitu baik” kata Rere masih dalam pelukan Andre. “Biarlah hubungan kita tetap terjalin bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Lagipula perjalanan cinta kita nantinya bakal abadi, atau malah putus di tengah jalan? Persahabatan bisa jadi awal percintaan tapi akhir dari suatu percintaan kadang malah menjadi permusuhan. Dan aku gak mau itu terjadi pada kita, Ndre”

    Andre mulai merenungi kata-kata Rere. Dilepaskannya pelukannya kemudian dipandanginya wajah Rere dalam-dalam. Ternyata Andre masih bisa menikmati senyum manis Rere. Masih bisa merasakan sejuknya tatapan Rere. Ia gak mau kehilangan semuanya itu.

    “Aku rela menjadi lilin walau sinarnya redup tapi gak habis dimakan api bisa memberi cahaya dan menerangi hatimu” kata Andre sambil menyeka air mata di pipi Rere.

    “Iya, Ndre. Soalnya hati hanya dapat mencintai sekejap. Kaki cuma bisa melangkah jauh dan lelah. Busana tak selamanya indah dalam tubuh. Tapi memiliki sahabat sepertimu adalah keabadian yang tak mungkin kulupakan” begitu pinta Rere disambut senyum Andre. Mereka saling berpelukan lagi. Tanpa beban tanpa terbatas ruang dan waktu. Hmm… apa bisa Andre menyimpan rapat-rapat perasaannya berlama-lama ? Only time will tell…

  18. Pak katanya ini di ringkas kok yang atas pada gak di ringkas?Saya bingung saya bikin dua ya pak?

    Ringkasan: PIKNIK

    Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan.Mereka datang ke kota kami yang hancur.Mereka datang dari negeri-negeri jauh.Mereka datang untuk berpiknik atau untuk menyumbangkan barang-barang seperti : Mie instan,kecap,saus,cuka,dan lain lain.Para penduduka di sana senang saat melihat para pelancong membangun tenda dan mengeluarkan perbekalan.Para pelancong di sana sangat senang gembira ada yang berfoto di depan reruntuhan rumah atau pun pepohonan.Setiap peristiwa itu membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap,karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja

    Yang asli: PIKNIK

    Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Merekadatang untuk menonton kota kami yang hancur. Kemunculan para pelancong itumembuat kesibukan tersendiri di kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbangkota menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendaraikuda, keledai, unta, atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datangdari segala penjuru dunia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan.Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikansiluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan, membawa bermacamperbekalan piknik. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati, dagingasap yang digantungkan di punuk unta terlihat bergoyang-goyang, roti kering yangdisimpan dalam kaleng, botol-botol cuka dan saus, biskuit dan telor asin, rendangdalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami.Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur.Kami menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yangsudah terlampau bahagia. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisamembosankan juga. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranyamenikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka.Karena itulah mereka ramai-ramai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimanaperlahan-lahan kota kami menjadi debu. Kami menyukai cara mereka tertawa, saatmereka begitu gembira membangun tenda-tenda dan mengeluarkan perbekalan, laluberfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami. Kami sepertimenyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami.Kadang mereka mengajak kami berfoto. Dan kami harus tampak menyedihkan dalamfoto-foto mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfotobersama. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka menyukai wajahkami yang keruh dengan kesedihan. Mata kami yang murung dan sayu. Sementaramereka—sembari berdiri dengan latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk atau merentangkan tangan lebar-lebar.Mereka segera mencetak foto-foto itu, dan mengirimkannya dengan merpati-merpatipos ke alamat kerabat mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.Belakangan kami pun tahu, kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dandiperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi.Pada kartu pos yang dikirimkannya itu, para pelancong yang sudah mengunjungi kotakami selalu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapaterpesonanya mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap.Mereka begitu gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Bagai ada nagamenggeliat di ceruk bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanahmelintas menggemuruh di bawah kakimu. Betapa menggetarkan melihat pohon-pohon bertumbangan dan rumah-rumah rubuh menjadi abu. Membuat hidup parapelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap, karena bisa menyaksikan segalasesuatu sirna begitu saja.

  19. Amalia Nindya Nurjanah

    SEBUAH JANJI

    Dua orang yang dulunya pernah satu sekolah di SMP yang sama . Setelah lulus dari SMP mereka ternyata satu sekolah. Alex adalah sahabat kecil Amel. Amel adalah sahabat Wina. Dulu Alex pernah menembak Wina tetapi Wina tidak menerima Alex. Alex sering Mengganggu Wina tetapi di pagi itu.

    Bel istirahat akan berakhir beberapa saat lagi . Wina berlari membawa tumpukan buku. Yah semenjak Wina menjadi ketua kelas ia menjadi sangat sibuk. Tetapi tiba tiba ‘ GUUUBBRRAAKK!!!’ semua buku yang bi bawa oleh Wina berserakan dilantai orang yang menabrak Wina tak tau lari kemana . Ada langkah orang mendekat ternyata itu Alex dya mulai mengejek tetapi Wina tetap diam dan tidak menghiraukannnya.

    Bel tanda berakhirnya istirahat berdering. “niatnya sich mau bantuin loe eh udah bel duluan yach?” kata Alex. Wina berdiri dan menendang kaki Alex. Alex terpekik kesakitan. Wina segera berlari ke ruang guru.

    “Wina..”

    Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang.

    “udah dech gue lagi dab mood nich..”

    “Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.

    “masa smpe segitunya sich?. Padahalkan gue cuman nendang kakinya.”

    Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku bukunya.

    “gue pulang duluan ya disuruh nyokap pulang cepet nich”

    Saat Wina membuka pintu dari luar ada orang juga yang membuka pintu.

    “Alex? Ngapain loe disini?”
    “gue cuman nyari Amel ko’”

    Jawab Alex sambil celingukan mencari Amel tanpa menoleh ke arah Wina.Dipandangi Amel dan Alex yang kian menjauh. Biasanya Alex selalu mencari masalh dengan Wina tetapi kali ini tidak. Rasanya ada yang hilang

    ‘Byyuuurrr..’ fanta rasa srawberry mengalir deras dari rambut Wna sampai kemeja putihnya.
    Ia di labrak cewe’ yang suka sama Alex gara gara dia nendang kali Alex. Dia di hajar smpe lemas. Untung ada orngyang menolongnya.

    “woi berhenti!! mau pergi atau gue laporin?”
    otomatis semua cewe cewe itu kabur. Alex membantu Wina berjalan ke UKS. Alex mengobati Wina . Sebenarnya Wina tidak ingin Alex yang mengobatinya . Tetapi Wina lebas luar biasa. “Trus nanti loe pulangnya gimana?”. “Pulang ya pulang. Emang lo mau nganter gue pulang?” jawab Wina. “Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.

    “Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.
     
    “Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
     
    Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?

    “Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS.

    Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri.
    ***

    Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”

    “Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.
    Dear wina,
    Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.

    “Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”

    “Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
    Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.

    Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.

    “Janji..” gumam Wina lirih.

  20. naufal syafiq pandutama

    Salah Nurunin Resleting

    Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

    Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

    Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

    Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

    “Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

    Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

  21. fani zafira suryani

    Dilarang nyanyi dikamar mandi

    Cerpen “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi” mengisahkan kehidupan masyarakat di sebuah daerah yang padat penduduk. Di dalam cerita tersebut dikisahkan seorang wanita yang sangat disiplin hidupnya. Ia bangun tidur dengan tepat waktu, berangkat dan pulang kerja dengan tepat waktu, makan tepat waktu, sampai mandi pun tepat waktu. Tidak luput setiap mandi, wanita itu selalu menyanyi di kamar mandi. Sebenarnya suara wanita itu tidak terlalu bagus, tetapi karena biasa dilalukan tepat waktu, warga sekitar menjadi tahu kebiasaannya itu.

    Kebiasaan menyanyi di kamar mandi ini ternayta menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum lelaki. Tepat setiap waktu si wanita itu mandi, banyak lelaki yang berdiri di balik tembok kamar mandi menikmati indahnya suara wanita yang sedang mandi itu, dengan diiringi suara air yang jatuh membasahi tubuhnya. Mereka membayangkan adegan yang erotis dengan wanita itu. Tentu saja hal ini menjadi masalah besar bagi kaum ibu.

    Ibu-ibu di daerah tersebut yang biasa memakai daster dan gulungan rambut di kepala, mendatangi Pak RT dengan sikap geram. Mereka menuntut Pak RT untuk mengambil tindakan tegas terhadap wanita tersebut, agar ia tidak lagi menyanyi di kamar mandi. Permintaan ibu-ibu tersebut pun dipenuhi. Pak RT dengan malu-malu menjelaskan maksud kedatangannya. Wanita itu dapat memaklumi maksud kedatangan Pak RT, dengan penuh pengertian wanita itu menerima usulan Pak RT.

    Esok harinya, tidak ada lagi suara serak-serak basah dari kamar mandi. Wanita itu tidak lagi menyanyi, hanya terdengar suara air yang membasahi tubuh. Meski begitu, toh para lelaki di daerah tersebut tetap tidak berhenti menghayalkan adegan seru dengan wanita itu. Tindakan menghentikan wanita itu dari kebiasaannya menyanyi di kamar mandi, ternyata tidak memulihkan kepasifan dalam rumah tangga warga di daerah tersebut. Alhasil ibu-ibu di daerah itu meminta Pak RT mengusir wanita tersebut dari daerah mereka.

    Dengan berat hati, Pak RT mengabulkan keinginan ibu-ibu tersebut. Rasa malu menyelimuti wajah Pak RT ketika menemui wanita itu dan menjelaskan maksud kedatangannya itu. Wanita itu dengan seksama mendengarkan penjelasan Pak RT, ia tidak merasa tersinggung dengan penjelasan Pak RT tersebut. Akhirnya dengan kerendahan hatinya ia memutuskan untuk tinggal di Kondominium.

    Sehari setelah wanita tersebut pergi, di sebuah teras rumah salah seorang warga, bercakap-cakaplah sepasang suami-istri. Si suami berkata bahwa jam-jam ini, adalah waktunya wanita itu mandi. Ia mandi denganpenuh semangat, suaranya yang seksi selalu mengiringi suara air membasahi tubuhnya yang padat berisi. Si suami tak henti-hentinya berimajinasi tentang wanita itu. Tentunya hal ini membuat si istri marah. Si istri berteriak minta tolong, ternyata teriakannya disambut oleh ibu-ibu lain di daerah itu.

    Pak RT menjadi kalang kabut menghadapi persoalan ini. Tindakannya mengusir wanita tersebut dari daerah kekuasaannya ternyata tidak membuahkan hasil. Wanita tersebut memang telah pergi, tetapi imajinasi tentang wanita itu tetap ada dalam benak para lelaki di daerah itu. Pak RT segera mengambil tindakan tegas. Ia memerintahkan para kaum ibu untuk ikut program senam kebahagiaan rumah tangga, dengan tujuan agar para ibu di daerahnya dapat membbahagiakan suami mereka di tempat tidur.Pak RT juga mengeluarkan peraturan baru, yaitu “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi.“

  22. aldi satria pranata

    MATA MUNGIL YANG MENYIMPAN DUNIA

    Mata Mungil yang Menyimpan Dunia
    Selalu. Setiap pagi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetanperempatan jalan menjelang kantornya, ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. Kadang berloncatan, seperti menjolok sesuatu. Kadanghanya merunduk jongkok memandangi trotoar, seolah ada yang perlahan tumbuh daricelah conblock.Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat, Gustaf tak tak bisa mendengarkanteriakan-teriakan bocah itu, saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalausesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dantertawa-tawa. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil, agar ia bisa mendengarapa yang diteriakkan bocah itu. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemisyang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelandalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Rambutnya kusam kecoklatan karenapanas matahari. Selalu bercelana pendek kucel. Berkoreng di lutut kirinya. Dia takbanyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyaksaja jumlahnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Danitu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yangperlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Sering Gustaf memperlambat lajumobilnya, agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu.Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan.Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrikdan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan,karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkangedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahantumbuh bunga mawar, akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagarpembatas jalan, kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Gustaf terkejut ketikatiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampakseperti terbuat dari gula-gula. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan, seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Kicau burung terdengar daripohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light.Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya, menghiruplembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah iaterkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Beberapapengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Seorangpolisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnyadan melaju. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Ia tak pernah menyangkabetapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Itusebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna danbentuk mata boneka-boneka koleksinya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Dan iturupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti

  23. Yunita Pramudi Utami

    BERAWAL DARI SEBUAH KEBOHONGAN

    Malam ini sangat berbeda dari malam malam sebelumnya. Malam ini bulan maupun bintang tak tampak karena tertutup awan kelam. Seperti diriku kini yang tak tau harus berbuat apa, aku mendapat sepucuk surat dari sahabatku Dani. Dia menyatakan perasaannya di dalam surat tersebut, untaian kata manis yang menyejukkan hatiku tak dapat aku hindari lagi. Namun hati kecil ini tak bisa dibohongi, “Aku tak menyukainya” , hati kecil ini selalu menjeritkan kata kata itu setelah aku membaca berulang kali surat tersebut. Tapi, aku tak mau Dani kecewa denganku, akhirnya aku bertekat membalas surat tersebut,

    Perasaan ini tak dapat ku bohongi
    Perasaan ini memang ada
    Perasaan ini memang selalu menyelimuti hati ini
    Perasaan suka kepadamu inilah yang selalu aku harapkan bisa kau balas
    Dan ternyata perasaanmu sama denganku
    Aku yakin jika semua ini akan terjadi
    Akhirnya aku dapat mengatakan bahwa “Aku juga Mencintaimu”
    Ku letakkan pena yang sedari tadi kugenggam, ku baca ulang isi dari balasanku, aku berpikir aku telah berdosa karna membohonginya, tapi apa daya aku tak mau membuat sahabat karibku terluka dan menjauhiku. Ku masukkan selembar kertas yang penuh kedustaan itu ke dalam amplop bewarna merah hati, karna besok aku harus memberikan jawabanku ke dia.

    “Teng…..teng…teng” suara lonceng sekolah yang menandakan berakhirnya kami menuntut ilmu berdenting, suara lonceng yang diikuti suara langkah kaki para siswa yang menuju gerbang semakin membuat hatiku riuh, hari ini aku berjanji menemui Dani di gerbang sekolah. Aku tak yakin dengan jawabanku tadi malam, aku masih ragu. Kukeluarkan kembali surat yang telah ku hias rapi dari dalam tasku. Aku menghirup nafas dalam dalam, aku berniat untuk mengganti isi surat tersebut. Mungkin sebuah kejujuran dapat merubah segalanya, aku tak ingin hari hariku bersamanya ternodai karna kebohonganku.
    “Hay, Bila udah lama nunggu?” kata seseorang dibelakangku
    “Dani” batinku, tanpa berpikir panjang aku segera menoleh ke arah suara itu, tapi kudapati Anton, teman sebangku Dani yang memanggilku tadi
    “Oh, Anton, dimana Dani?” ucapku seraya menyembunyikan suratku di belakang tubuhku
    “Dani tak masuk karna sakit, Oiya Bil, aku disuruh Dani, mengambil surat yang kau janjikan kemaren”

    DEG!
    “Surat? Oh…suratnya ketinggalan di rumah iya ketinggalan” ucapku menutupi rasa gugupku
    “Terus itu apa?” ucapnya menunjuk secarik kertas yang jatuh tepat dibawahku, kemudian diambilnya surat tersebut, “lah, ini suratnya” ucapnya
    “Oh…iya mungkin tadi aku salah liat, aku kira itu surat izin Nina, hehe” cengirku
    “Yaudah aku kasih Dani ya? Dah Bil…”
    Aku terpaku di tempat, aku tak dapat berbuat apa apa,kutarik tanganku yang sedari tadi bersembunyi di belakang tubuhku, memang benar dugaanku, surat itu terjatuh dari amplopnya. Inginku berlari ke Anton yang belum jauh dari ku, namun perasaan bimbang kembali datang di hatiku. Aku menyerah, aku biarkan saja surat itu dibaca oleh Dani, mungkin seiring waktu berjalan aku dapat sedikit demi sedikit mencintainya.

    Sore ini aku berniat menjenguk Dani, di perjalanan hatiku semakin tak menentu karna hari ini mugkin aku resmi berpacaran dengan Dani. Aku mengemudikan mobilku sedikit kencang karna takut hari semakin malam. Sesampainya dirumah Dani, aku mengambil buket bunga serta nasi goreng buatanku yang disukai Dani. Kulangkahkan kakiku menuju kedalam rumahnya, Pak Tri adalah penjaga rumah Dani, beliau sudah sangat akrab denganku. Aku dan Dani telah berteman hampir 5 tahun sejak kelas 1 SMP, jadi tak heran jika aku bisa keluar masuk rumah Dani tanpa seizin Pak Tri.
    “Mau jenguk Tuan Dani, non?” tanya Pak Tri
    “Iya pak, oiya Dani dirumahkan?” jawabku ramah
    “Iya non, silahkan masuk nanti mobilnya saya parkirkan.”
    “Baiklah pak ini kuncinya” ucapku seraya memberikan kunci mobil ke Pak Tri.

    Aku masuk ke dalam rumah Dani, aroma khas rumah Dani selalu membekas, rumah Dani sangat rapi, Dani disini hanya tinggal sendirian, karna Orang tuanya sedang keluar kota. Tak mau membuang buang waktu segeraku ke lantai 2 dimana kamar Dani berada. Sesampainya di depan kamar Dani aku ragu untuk membukannya, aku takut jika Dani menanyakan kebenaran isi surat tersebut. Tiba tiba hendle pintu Dani bergerak, aku kaget mungkinkah Dani? Namun ternyata pengasuh Dani yang keluar
    “Oh non Bila silahkan masuk, Saya mau ngurusin dapur dulu, tolong titip tuan Dani ya” pintanya
    “Bik, ini untuk Dani” ucapku seraya menyerahkan satu kotak penuh nasi goreng
    “Oya, makasih ya non, pasti Dani seneng banget ini non.” ucapnya kemudian pergi

    Aku masuk ke kamar Dani, ku lihat Dani yang terbaring lemas diatas kasurnya, tiba tiba hati ini merasa khawatir, aku sempat bertanya apakah aku mulai menyayangi Dani atau aku hanya simpati? Aku duduk di sebelah Dani, setelah meletakan buket bunga, aku kembali memalingkan wajahku dan kutemukan wajah Dani yang begitu pucat, Dani sangat tampan jika tidur? Hey ada apa denganku? Tidak tidak, aku jatuh cinta kepada Dani? Tapi mengapa aku menolak? Toh, aku juga udah jadian sama dia.
    “Bil.” lirih Dani
    “Ha?” lamunanku tiba tiba pecah, “iya ada apa?” ucapku
    Terlihat raut senyum di wajahnya, “kok gak bilang sayang?” ucapnya yang kurasa tak bercanda
    “Apa? Oh i..i..iya saa…yaa…ng..kam..u gak ..pa..pa..kan?” balasku canggung
    “Hahaha…kita kan udah resmi jadian, harusnya gak usah canggung dong.”

    Aku mengangguk tanda menyetujuinya, “Oiya, aku tadi bawa nasi goreng, kamu mau? Aku ambilin.” ucapku seraya berdiri berniat mengambilkannya
    “Bil, gak usah aku cuma mau kamu disini.” lirihnya menggenggam tangan kiriku.
    Tanpa aba aba aku segera kembali ke tempat dudukku semula.
    “Bil, mungin hidupku tak kan lama lagi namun setelah aku mengenalmu 5 tahun yang lalu aku jadi mengerti arti hidup ini. Hidup ini indah jika kita dapat melihat orang yang kita sayangi merasa bahagia. Bil, kamu mau kan menemaniku diusiaku yang tak lama lagi ini?”
    Tak terasa air mataku mengalir, “Dan, kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerti, aku selalu disini Dan, aku tak akan meninggalkanmu.” isakku namun dengan sebuah canda
    “Kamu nggak usah tangisi aku, aku jadi ikut sedih jika kamu sedih Bil, aku sayang banget sama kamu, tadi Anton ngasih suratmu itu katanya kamu membalas cintaku, aku senang banget Bil, aku tak tau harus ngomong apa lagi” jawabnya di sertai senyuman yang masih mengembang di wajahnya.

    Ku pererat genggaman tanganku, aku menangis bukan karna aku sedih melihatmu, tapi karna aku menyesal telah membohongimu Dan.
    “Sudah Bil, jangan nangis.” ucapnya berusaha bangun, tapi aku mencegahnya
    “Jangan bergerak dulu.”

    Dani mengangguk, kemudian suasana hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, hingga Dani memulai pembicaraan
    “Bil, udah malem, pulang gih, nanti kamu kecapekan lagi”
    Aku mengangguk, ku bermaksut untuk berdiri namun lagi lagi Dani menggenggam tanganku
    “I love You Bila” ucapnya
    Ku balas kalimat tersebut dengan senyuman, karna aku sama sekali tak mencintainya. Oh Tuhan salahkah aku?

    Hari ini adalah annyversarry ku yang ke 1 tahun dengan Dani, aku mulai merasakan bibit bibit cinta yang mulai bermekaran di hatiku. Danilah yang menumbuhkan itu semua, Dani selama ini telah mengajariku arti cinta yang sebenarnya, disetiap kata Dani kadang menyisipkan kalimat yang membuat hati ini bertanya tanya.
    “Dedaunan tak selamanya akan berwarna hijau dan dapat melindungi kita dari panas, tapi ada saatnya daun itu akan jatuh dari pohonnya dan lama kelamaan akan berubah bentuk menjadi seonggok sampah”

    Aku masih tak mengerti apa maksut dari kalimat tersebut, setiap aku bertanya Dani hanya menjawab “tunggulah waktunya, nanti kamu akan mengerti”
    “Tin…tinn…” terdengar suara klakson dari depan rumahku, aku segera pergi, tapi sebelumnya aku mematuk diriku ke cermin
    “Perfect” gumamku
    “Mah, aku pergi ya….” kataku seraya mencium tangan mamaku
    “Iya, hati hati jangan malam malam”
    Aku berlari sambil mengacungkan jempolku. Aku masuk ke mobil silver Dani.
    “Hay, sayang hari ini mau kemana?” ucapku senang
    “Ke taman aja ya sayang aku mau istirahat, kan disana sejuk.”

    Aku mengangguk, perjalanan dari rumahku ke taman bisa dibilang dekat hanya memakan waktu 15 menit saja. Selama di perjalanan kami tak banyak mengobrol, hanya saja sesekali kami bersanda gurau. Tak terasa kami telah sampai di tempat tujuan, setelah memarkir mobil Dani, kami menuju bangku taman yang tak jauh dari sebuah danau kecil. Kukeluarkan isi tasku, aku membawa beraneka roti dan tentunya sekotak nasi goreng.
    “Dan, aku bawain nasi goreng, mau aku suapin?” tawarku
    Dani mengangguk, dia lalu membuka mulutnya, aku segera menyuapinya. Oh Tuhan terimakasih, karna sekarang aku telah bisa menyayangi Dani, aku tak mau meninggalkannya, aku sudah terlanjur mencintainya Tuhan.
    “Bil, maafkan aku jika aku mempunyai salah kepadamu, mungkin jika aku meninggalkan dunia ini, aku telah bahagia karna yang terpenting impikanku selama ini telah terwujud, aku bisa melihat orang yang aku sayangi bahagia. Berjanjilah kamu kepadaku, setelah aku tiada kamu akan mencari penggantiku, namun kamu harus memilih seorang lelaki yang sehat tidak sepertiku yang sakit sakitan.” lirihnya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan selama ini, sesuatu yang sangat penting dan aku tak tau apa maksut semua itu.
    “Dan, kenapa kamu selalu bilang seperti itu, ada apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Apa itu Dan? Apa? kenapa kamu tak mengatakannya kepadaku? Aku mencintaimu Dan, aku tak mau kehilanganmu.” kataku disertai hembusan nafas yang berat

    Dani memelukku, begitu hangat pelukannya, baru kali ini aku merasakan pelukan Dani, aroma tubuh Dani dapat ku nikmati dengan jelas, aku membalas pelukannya, aku pererat pelukanku seakan aku tak mau membiarkan dia pergi. Namun perlahan tubuh Dani memberat, aku melepaskan pelukannku terlihat di hidung Dani mengalir darah segar, Dani perlahan menutup matanya disertai dengan senyuman yang terlukis di kedua sudut bibirnya.
    “Terimakasih Bil, kau telah menemaniku di akhir hayatku ini. Aku mencintaimu.” lirih Dani pelan
    “ Dani….” kugoncangkan badannya dengan pelan, namun tak ada reaksi darinya, kugoncangkan lagi namun dengan nada yang lebih cepat, “Daniiii……” jeritku sekarang yang membuat pengunjung taman menoleh kearahku.
    Air mataku tumpah semakin deras, orang orang disekeliling kami mendekat dan menggotong tubuh lemas Dani, salah seorang pengunjung mengubungi ambulance. Tak lama kemudian ambulance datang, aku mengikuti mobil ambulance dengan mobil Dani, aku masih tak percaya Dani yang aku cintai sekarang pergi. Aku masih bertanya tanya sebenarnya penyakit apa yang diderita Dani?

    Sesampainya di rumah sakit, aku menelfon Mamaku karna Orang tua Dani sedang pergi entah kemana. Aku menyendiri di sebuah bangku yang kosong, aku terus terusan mondar mandir di depan pintu kamar dimana Dani ada didalamnya.
    “Bila!” panggil seseorang yang sangat ku kenal
    “Mama” aku berlari memeluk wanita paruh baya yang sangat ku sayangi
    “Mah, Dani mah Dani.” isakku di pelukan mamaku
    “Sabar nak sabar, pasti akan ada jalan keluarya. Kita berdoa saja supaya Dani baik baik saja.”
    Aku tak menjawabnya, tiba tiba mamaku memberikan secarik kertas putih yang tertulis “Untuk Malaikat Tanpa Sayapku Nabila”
    “Mungkin ini saatnya sayang.” ucap mama menyerahkan surat tersebut ditanganku
    Aku membuka lipatan surat tersebut, terlihat tulisan Dani yang begitu rapi, terjajar dengan indah

    Untuk Bila,
    Bil, mengkin jika kamu membaca surat ini aku telah tiada di dunia ini, namun yakinlah walaupun raga ini telah lenyap, namun jiwa ini akan selalu menemanimu dan senantiasa menjagamu dari surga, tapi ingatlah, jika kau merindukanku, serukan namaku di dalam hatimu, serukanlah dengan ketulusan maka kau akan merasakan aku didalam jiwamu.
    Tapi…andai saja aku bisa menolak takdir ini, sungguh aku ingin melihatmu berbahagia dengan orang yang tepat, berbahagia dengan hidup yang kau punya, berbahagia dengan diriku. Namun apa daya aku tak dapat merubah takdir ini. Memang aku ingin sekali memelukmu, namun dunia kita telah berbeda, berjanjilah kepada dirimu sendiri bahwa kau tak akan melupakanku dan tak akan melupakan kenangan kita yang dulu kita ukir bersama.
    Maafkan aku Bil jika aku tak sempurna, maafkan aku jika kali ini aku harus pergi dan tak akan kembali lagi, dan maafkan aku karna aku belum bisa membahagiakanmu karna sakit yang tak kuharapkan ini. Semoga kau bahagia tanpaku Bil. Terimakasih telah memberiku warna dan mengerti arti kehidupan, terimakasih Bil.

    Orang yang menyangimu,
    Dani
    Air mataku kembali mengalir, “Makasih juga Dan selama ini kamu mampu bertahan buatku” aku menoleh kearah Mamaku yang sedari tadi mengelus elus punggungku, “Ma, sebenarnya Dani sakit apa?” ucapku dengan kesusahan
    “Dani, terlahir hanya memiliki satu ginjal, dan ginjal tersebut sangat lemah, Mama Dani selalu mengecek kesehatan Dani setiap waktu. Tahun berjalan tepat diumur Dani ke 13 tahun, tepatnya saat Dani masuk SMP, Dani harus menerima kenyataan pahit, ginjal Dani tak mampu bekerja dengan baik, ginjal Dani tak dapat membuang sisa sisa metabolisme dari tubuhnya. Dani divonis menderita gagal ginjal akut, gagal ginjal ini masih bisa ditolong dengan cangkok ginjal. Mama Dani sering berbicara tentang Dani, tapi mama takut bilang kepadamu sayang” Papar mama panjang lebar
    Aku masih tak percaya berarti dari aku bertemu Dani dia telah menyembunyikan ini semua.
    “Mah, golongan Danikan O, golongan Bila juga O, bagaimana jika Bila yang menyumbangkan ginjal Bila?” ucapku memohon
    “Sayang, kamu ingin Dani bersedih jika ternyata ginjal yang ada pada dirinya adalah ginjal darimu?” ucap mama
    “Maah…plis, Bila sayang dengan Dani ma”
    “Tidak Bila mama tidak setuju.” bentak mamaku

    Hari ini hari pemakaman, dimana hari ini semua orang, keluarga, teman, orang orang yang peduli terhadap kita berkumpul jadi satu. Hari ini bukanlah hari terakhirku, namun hari ini adalah hari baru di dalam hidupku, hari dimana semua kenangan, kesedihan, kesenangan aku tinggalkan di dunia ini menuju ke tmpat yang damai dan tentram diatas sana. Dani semoga kau bahagia dengan ginjalku yang tertanam di tubuhmu.
    “Dan, ayo pulang mama yakin Bila pasti bahagia di alam sana.” bujuk mama Dani
    “Kenapa harus Bila ma?” isak Dani
    “Nak Dani, ini adalah keputusan Bila, dulu sewaktu Nak Dani kritis Bila memohon kepada ibu untuk mendonorkan ginjalnya kepada Nak Dani, awalnya ibu menolak, namun kecintaan Bila akan Nak Dani begitu kuat, Bila memohon hingga sujud di telapak kaki ibu. Ibu sangat tersentuh, akhirnya ibu mengizinkan Bila, Bila terlihat sangat senang. Pada akhirnya operasi berlangsung, semua berjalan dengan baik, namun satu ginjal Bila mengalami kebocoran, ginjal Bila rusak, tak bisa berfungsi karna kebocoran tersebut, dan pada akhirnya Bila tak tertolong, Bila sempat berbicara pada ibu, dia bilang, jika dia tak kembali ke dunia ini, dia minta ibu untuk menyampaikan surat kecil ini ke Nak Dani.” ucap mama Bila dengan penuh kesedian serta menyerahkan surat kecil tersebut.
    “Dan, aku mengerti sekarang tentang arti Daun tersebut, mungkin dedaunan itu bisa saja jatuh, namun ranting bisa saja menolongnya, mungkin ranting memang lemah tapi dia mampu menopang daun agar tidak jatuh. Walaupun ranting itu jatuh namun daun masih bisa dilindunginya, dengan cara menerbangkan daun tersebut ke suatu tempat untuk memulai kehidupan yang baru. Kamu tau tidak? Ranting itu adalah aku, dan daun adalah kamu. Kita saling melengkapi, namun karna takdir kita dapat terpisahkan, tapi ingatlah aku tak akan meninggalkanmu Dan, I love You.” begitulah isi pesan dari surat tersebut
    “Terimakasih Bil, aku janji akan merawat ginjal ini untukmu, I Love You too.” ucap Dani seraya meninggalkan tempat pemakamanku, sekaligus tempat terakhirku.

    Kini semuanya telah hilang, aku telah menemui takdirku selama ini, aku tak akan mengecewakan semuanya, termasuk orang orang yang aku cintai. Sekarang di atas sini aku dapat melihat dan menjaga kalian semua meski aku tak dapat menyentuh kalian. Bermuai dari kebohongan, aku dapat mengerti arti kehidupan seperti yang diajarkan Dani. Aku tak menyangka kebohonganku dapat membuatku seperti ini. Selama kita hidup kita harus berusaha menjaga semuanya agar tetap indah dan yang paling terpenting kita harus membuat orang yang kita sayangi bahagia.
    SELESAI

  24. Aulia Sigit Ardianto

    Sinopsis : “Seragam”
    Seorang lelaki terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
    Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Senin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
    Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
    ”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
    ”Kenangan.”
    ”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
    Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
    Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
    Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
    Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tak kuasa menolak.
    ”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak pantas.
    ”Tanggung,” jawabnya.
    Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
    Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya . Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
    Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah . Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
    ”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
    Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
    Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
    ”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
    ”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
    Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
    Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
    Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
    ”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
    ”Ulahnya?” Dia mengangguk.
    ”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
    ”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
    Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
    Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: