Menulis Pantun

1. Pengertian Pantun dan Syarat-syarat Pantun

Tahukah kamu cara menuliskan pantun dengan benar? Apa saja syarat-syaratnya? Kamu akan diajak belajar untuk menguasai kompetensi menulis pantun sesuai syarat-syaratnya.
Pantun merupakan salah satu jenis karya sastra Melayu Lama yang berbentuk puisi. Pantun juga merupakan salah satu peninggalan masyarakat Melayu. Pada zaman dahulu, pantun diciptakan untuk berbagai tujuan, antara lain menyampaikan nasihat, menyatakan rasa sayang, ajaran budi pekerti dan moral, untuk kepentingan sosial, serta untuk hiburan/kejenakaan semata. Sebagai jenis puisi lama, pantun memiliki kata-kata yang khas. Kekhasan kata-kata dalam pantun ditunjukkan melalui penggunaan kata-katanya, ungkapan pengarang, serta kemerduan bunyinya karena pilihan bunyi akhir yang teratur. Pantun terdiri atas dua bagian, yaitu bagian sampiran dan isi. Hal yang dipentingkan dalam menulis pantun adalah mementingkan keindahan bahasa, pemadatan makna kata, dan bentuk penulisannya berbait-bait. Salah satu keindahan bahasa dalam sebuah pantun ditandai oleh rima a – b – a – b. Jika kamu akan menulis sebuah pantun dengan baik, hendaknya memerhatikan syarat-syarat pantun berikut.
a. Satu bait terdiri atas empat baris.
b. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan bait ketiga
dan keempat merupakan isi.
c. Setiap baris terdiri atas 8 – 12 suku kata.
d. Rima akhir berpola a – b – a – b.

Perhatikan rima akhir contoh pantun di bawah ini.
Asam pauh dari seberang (a)
Dimuat di dalam peti (b)
Badan jauh di rantau orang (a)
Kalau sakit siapa mengobati (b)

Berdasarkan isinya, pantun terdiri atas tiga jenis.
a. Pantun anak-anak, terdiri atas pantun teka-teki dan pantun jenaka.
b. Pantun remaja, terdiri atas pantun perkenalan, pantun berkasih-
kasihan, dan pantun perpisahan.
c. Pantun orang tua, terdiri atas pantun adat, pantun agama, dan pantun
nasihat.

2. Contoh Pantun

Perhatikan contoh pantun di bawah ini!
Contoh (1)
Kalau piknik di tepi pantai
Pulanglah sebelum hari senja
Kalau adik ingin pandai
Belajarlah sambil berdoa

Contoh (2)
Ada melinjo ada emping
Digoreng dengan minyak kelapa
Ada sinyo tertawa nyaring
Dicoreng hidungnya dengan jelaga

Contoh (3)
Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji dimasukkan peti
Utang emas dapat dibayar
Utang budi dibawa mati

Contoh (4)
Awan putih tinggi di langit
Di bawah bumi jadi naungan
Cita-cita biarpun tinggi selangit
Tata krama tetap jadi pegangan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: